Filosofi Ayakan Tepung (telaah pendidikan)

Sembari menunggu perbaikan pendataan guru akhir tahun 2013 dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kota Palangka Raya, siang yang hangat kami isi dengan berdiskusi yang gayeng bersama Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, Kadaryono, S.Pd dan sesepuh sekolah (hehehe).

Seputar pelaksanaan Kurikulum 2013 dan kekurangan jam mengajar yang dituntut terhadap guru yang menerima tunjangan sertifikasi menyisakan beban yang cukup berat bagi Beliau. Belum lagi tuntutan dari “guru-guru senior” yang meminta “jatah” agar tetap mendapat pengakuan 24 jam tapi jam mengajarnya “diciutkan” tidak sedikit menimbulkan friksi di antara kolega.

Ada juga yang harus cuti demi cuti karena kekurangan jam mengajar yang tidak mencapai 24 jam juga menjadi topik pembicaraan hangat dan akhirnya diputuskan berubah di tahun 2014 mendatang dengan memenuhi syarat ketentuan berlaku (sebagaimana operator seluler).

Tiba-tiba datang seorang ibu guru muda, wali kelas X, membawa problema yakni hasil penilaian dari sebuah mata pelajaran yang “cukup” berpengaruh dan “wibawa” mata pelajaran ini mampu menghentak peserta didik hingga terpental batal naik kelas!

Semua hasil penilaian KI-1 dan KI-2 yang diberikan oleh guru mahadashyat di sekolah naungan ini sungguh memilukan, semua peserta didik diberikan atribut “cukup” tidak ada keberagaman sama sekali tanpa deskripsi kompetensi dasar yang dicapai, standar kompetensi yang diajarkan, pokoknya benar-benar nihil keterangan. Yang ada hanya angka dan predikat plus atribut nilai. Sebagai informasi atribut nilai dalam KI-1 dan KI-2 adalah rentangan mulai dari keterangan Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K).

Padahal sebelumnya boleh dikatakan guru mahadashyat ini sudah benar-benar mumpuni karena sering menjadi fasilitator dan narasumber dengan tema Kurikulum 2013 dan impelementasinya hingga tingkat yang belum pernah saya capai ! Ironi memang😦

Keputusan di tangan wakasek dan kami tetap menunggu hasilnya setelah LCK dibagikan kepada para peserta didik dan reaksi dari individu guru-guru hebat ini!

Di penghujung diskusi di antara para guru-guru muda yang dipilih menjadi wali kelas X, “pakde” sebutan kepada wakasek kurikulum kami ini, menguraikan filosofi pendidikan katanya

Mengajar itu seperti ayakan tepung, siswa ini adalah beras-beras yang kita tumbuk kemudian kita ayak-ayak. Ada yang berhasil lolos menjadi tepung yang sangat halus dan pasti selalu ada yang tersisa menggumpal seperti batu-batuan, keras yang harus kita pecahkan. Siswa kita bak batuan tepung yang tersisa itu. Bagian siswa itu yang mestinya kita remediasi. Remedial juga ada batasan dan tidak ada ketentuan bahwa semua tepung harus terayak semua atau dengan kata lain tidak semua siswa harus tuntas semua.

Kalimat terakhir cukup menyakitkan dan menyedihkan dalam batin saya, karena pendapat saya pribadi, apapun siswanya macamnya dan modelnya jika bisa diremedial dan mereka dapat mencapai perbaikan adalah suatu kebahagiaan. Namun jika berkali-kali diremediasi dan di-rekonsiliasi  bahkan hingga konferensikan kepada konselor sekolah tetapi siswa yang bersangkutan tetap bermasalah dalam hasil belajar dan perilakunya (behaviour atau tindak tanduknya) memang semestinya mendapat ganjaran yang sesuai aturan main.

Ketuntasan merupakan batas akhir – garis merah – bottom line atau apapun sebutannya adalah pencapaian dari si peserta didik terhadap tuntutan kurikulum yang menjadi beban belajar mereka. Terus terang saja beban belajar yang dihadapkan kepada para peserta didik kelas X adalah 13 mata pelajaran dengan berbagai kesulitannya. Kelas XI bertambah menjadi 14 mata pelajaran dan di kelas XII ada 12 mata pelajaran yang menjadi beban.

Beban demi beban bukankah akhirnya siswa hanya menjadi keledai beban?

Tugas guru di akhir semester adalah memberi evaluasi, penilaian atas jerih payah dan capaian yang telah dilakukan oleh siswa. Kadang berbuah manis kadang berbuah pahit.

#ada, #belum, #kami, #languages