Balik Kanan Bubar Jalan

Sedari dini hari mata sudah tak dapat dipejam. Dipaksa mengatup rasanya sungkan. Deru bis besar mulai memenuhi atmosfer seolah dekat dengan telinga, kebetulan terminal perhentian sejenak ada sepelemparan dari bilik ini. Bau apek penginapan lama
membuyarkan mimpi indah bersamanya, menggugah selera jasmani untuk segera dibasuh dengan air sejuk dari pancuran.

Matahari masih jauh dari penampakan, ayam pun tiada terdengar kokoh teriakannya. Aku sudah harus bersiap karena janji dengan Omjay untuk berangkat pagi-pagi sejurusan dengan arah Kemdikbud yang menjadi tujuan mereka berdua Pak Yulef Dian. Tanpa kami sadari arloji masih jam lima pagi, hendak mengurungkan niat untuk turun ke lantai dasar. Tapi apa percuma, jika pakaian terbaik dan teranyar dipasangkan dengan sepatu Bally menyempurnakan penampilan.

Sementara jarum jam berlari-larian berparade harmonis dengan Rembang pagi, kami menyetel televisi dan menyaksikan berita yang mungkin menarik hati. Sembari menanti bangunnya Omjay dan Pak Yusuf MAN Bogor bangkit dari katilnya. Semalam kami baru menuntaskan perhatian belajar di studio21, menikmati film Soekarno sebagai hadiah bagi guru untuk mengenal sejarah Dwi Tunggal.

Pukul setengah tujuh melintas lah sosok berbobot dengan sebagian rambut tidak lagi hitam yang cepak, Omjay sudah bangun sembari menenteng plastik kecil berwarna hitam dan sekilas bentuk kotak membayang.
“Mau menyelesaikan administrasi penginapan,” ujarnya enteng sambil menoreh senyuman khas blogger.

Pak Yulef segera berdiri dan mengajak mencari sesuatu kudapan untuk mengganjal perut kami yang disebut asupan pagi, tampak sudah berjejer di depan pagar UNJ gerobak makanan bak etalase Kuliner yang siap disantap. Akhirnya pilihan jatuh kepada gerobak Nasi Uduk dengan Lauk telur terlentang bersalut bawang berwarna kecoklatan, namun agak kurang kehangatan sebab telah keluar dari gemericik panas minyak goreng menumpuk lapisan kerutan khas saat cairan plasmatik beradu dengan fluida likat bersuhu tinggi.

Empat boks berwarna putih tiada warna lain dalam deretan cetakan kotak styrofoam tersebut. Segera diisi dengan nasi, tempe goreng, telur dadar dan bawang goreng sebagai santapan pagi. Kebetulan Omjay dan Yusuf Bogor barusan menjejakkan kaki di luar pagar besi kembali masuk wisma untuk men download materi hayati yang harga 6000 per porsi. Empat gelas air hangat tersuguh di atas meja lobi, sebagai saksi empat anak manusia bersantap ria menikmati kelanjutan hayat yang diizinkan Yang Maha Kuasa.

Perpisahan tak terelakkan antara kawan dan rekan, kembali menuju tempat beradu ilmu. Yusuf Bogor segera beranjak menuju Stasiun Kereta mengejar wahana beralas rel ke tempatnya dan saya diturunkan dengan perhentian Bis DaMri sebelum menuju bandar udara ternama di ujung Jakarta kembali ke bumi Tambun Bungai.

Terima kasih Omjay dan Om Yulef yang tadi tidak sempat berjabat tangan dari Bluebird karena hampir berbenturan dengan portir asal pulau garam yang main angkut dan membawa tas kami berempat. Untunglah tidak terjadi pertukaran impuls dengan oknum-oknum ini. Dan Bis yang sedari tadi sudah menggerung-gerung seolah ingin melahap jalanan ibukota akhirnya menaikkan saya sebagai penumpang terakhirnya.

Saya hanya sempat berkirim pesan pendek mengucapkan maaf dan salam perpisahan sebagai kesudahan penutup perjumpaan. Semoga di masa mendatang, kita bersua kembali.

Aku pergi untuk kembali sobat!