Kubangan Kemiskinan

Seminggu yang lalu kami dihadiahi sebakul cempedak (antara nyata dan ngawur) karena mau disebut bakul terlalu kecil, saya sebut keresek pun masih kalah besar dengan bakul aslinya. Ya sudah, terima saja … Bakul karena terbuat dari pandan! Ngga terima awas !

Bakul ini berisi sekitar 3 biji buah cempedak, lonjong panjang besar dan bersisik persis nangka. Buahnya manis sangat dan empuk terutama kulit buahnya kuning kepucatan menarik selera untuk membetot dengan lidah dengan sedikit takik dari gigi kapak depan. Bedanya dengan nangka karena tidak licin mengkilap, buah cempedak cenderung kuning krem agak berpori.

Meskipun begitu biji cempedak sama lezatnya dengan biji nangka jika direbus dalam air panas selama 20 – 25 menit, selain bisa ditembak menjadi pelor saat perang-perangan atau dilempar dalam keadaan bulat, inti biji cempedak berasa seperti kuaci dalam ukuran maksi.

Karena kemiskinan yang demikian panjang, disebabkan penjajahan bangsa asing. Konon keluarga kakek saya dari garis ayah memiliki resep jitu serasa makan semur. Bijimana bro?
Keluarga kakek ini terdesak garis kemiskinan sampai celana komprang dan kain sarung pun harus terganti dengan kain goni yang gatal-gatal serta menimbulkan sensasi tak berkesudahan dengan meninggalkan garis-garis parit bekas tancapan kuku sisa garukan, datuk kami (sebutan dari ayah dari kakek atau kakek dari kakek) memiliki kebun buah bermacam ragam yang salah satunya cempedak ini. Kebun beliau tentu saja berada di belantara jauh dari pemukiman penduduk, hunian penduduk pun saat era akhir 1890an sangat jarang sama seperti kedudukan kacang goreng dalam genggaman rempeyek.
Setiap akhir desember sampai februari, buah cempedak berjatuhan layaknya hujan lebat di tengah tanah kerontang atau seperti bintang berkejaran menjelang pancaroba terang benderang di langit selatan. Cempedak yang berjatuhan ini begitu banyak kadang kala tidak termakan sehingga untuk mengawetkan dan memanfaatkan daging kulitnya yang empuk biasanya disayat tipis dengan membuang kulit ari yang busuk atau kehitaman kemudian diiris-iris seperti dadu besar ukuran 3 cm x 3 cm lalu dilumuri garam dan direndam dalam air selama seminggu. Jika bau yang dihasilkan dalam guci (“belanai” sebutannya di daerah kami) hasil rendaman itu berbau wangi keasin-asinan, maka “dami” pun siap disantap dengan digoreng atau dibuatkan sup berkuah.
Kenapa diberi nama dami, dami tidak lain dari daging miskin.
Walaupun berkubang dalam kemiskinan, keluarga datuk tetap bisa makan daging.😀

Sampai sekarang kami sering menyebutkan kulit buah cempedak yang direndam dalam garam cair dengan panggilan sayang “dami”