Mengolah Kelas

Selama ini menjadi guru notabene adalah menjadi seseorang pemain tunggal di kelas, dia berbicara sendiri, ngomong sendiri dan bertanya sendiri. Siswa atau peserta didik akhirnya menjadi pasif dan menjadi pendengar saja.
Jika pun diberi kesempatan bercakap-cakap di depan, seringkali siswa ini menjadi grogi dan akhirnya tujuan pelajaran menjadi tidak benar-benar tercapai. Ada yang melihat tujuan pelajaran dibuktikan dengan hasil nilai ulangan atau tes yang meningkat atau tinggi. Apakah memang benar begitu? Mungkin saja siswanya mencontek atau soalnya terlalu mudah! Atau mungkin soalnya bocor atau mungkin pula karena guru yang memberi les, lewat les itu latihan soalnya menjadi soal ulangan?
Semua kemungkinan bisa terjadi, sejauh mana itu adil atau tidak hanya para guru yang memiliki hati nuranilah yang bisa menjawabnya. Lalu yang tidak memiliki itu?

Mengolah kelas menjadi kelas yang dinamis, hidup, siswa aktif, tidak segampang membalikkan telapak tangan. Selama ini para guru sering menipu diri sendiri apalagi kepada siswa. Dengan mengatakan belajar itu menyenangkan. Belajar itu mudah. Padahal sebenarnya, saat kita pun (yang saat ini telah menjadi guru) kita malah tidak menyenangi kelas (saat itu). Apakah dengan ini kita menjadi kualat?
Kualat hanya mitos yang tidak realistis, kalo pun ada musibah itu namanya kehendak Yang Maha Kuasa. Kita tidak dapat menolak musibah, tidak dapat menolak takdir. Kita hanya bisa menerima.

Kuasa para guru adalah bisa mengubah kelas dari sunyi senyap menjadi riuh rendah, menari-nari seperti gelombang samudera atau bisa menjadi sespi tiupan angin di tengah suasana pemakaman !
Kuasa mengelola kelas itulah yang memerlukan strategi dan pendekatan kepada para peserta didik.
“Sentuh” mereka pada titik hatinya. Bagaimana?
Tanyakan kesukaan mereka, apa yang ingin mereka pelajari, cara yang bagaimana yang nyaman bagi mereka dan juga bagi guru, buat kesepakatan buat perjanjian. Jika salah satu pihak melanggar buat komitmen. Kadang-kadang karena guru sebagai ruler, komitmen itu malah berlaku sepihak (hanya untuk siswa).
Mengolah (hati) kelas adalah membangun keceriaan, melewati humor, cerita lucu, tingkah laku yang bisa mencairkan suasana hati, tidak menceritakan kehebatan sang guru (biarlah para siswa yang tahu sendiri dari orang lain), menceritakan kekonyolan diri sendiri (agar siswa juga bisa melihat bahwa guru juga manusia), guru bukan serba mahatahu, guru bukan segala-galanya.
Melalui guru berkah pengetahuan itu mengalir, guru sebagai pembawa lentera kehidupan.
Niscaya, kita yang mempercayai guru (hebat) itu lahir dari hati pendidik tidak hanya mengajar saja melainkan mendidik berakhlak mulia.
Karena pada hakikat seorang guru adalah mulia.

#hati-guru