Faktor U

Keikutsertaan saya pada suatu blog keroyokan yang dianggotai para guru telah mencapai suatu titik. Ketika beberapa kali rekan-rekan mengirimkan pesan baik melalui sms ataupun pesan jejaring sosial, bahwa betapa cepatnya tulisan mereka “tenggelam” dalam blog keroyokan tersebut.

Hal ini memang suatu resiko dari sebuah blog yang diisi secara beramai-ramai karena para anggotanya sangat terstimulasi atau bahasa gaulnya “terangsang” untuk terus menulis dan memenuhi website tersebut. Sampai-sampai ada usulan untuk mengadopsi format blog keroyokan ala guru ini dengan blog keroyokan yang sudah sangat terkenal seperti Kompasiana.

Jika dibandingkan dengan website tersebut, jurnalisme warga Kompas, memang blog keroyokan ini tidak sebanding malah seperti pengisi tulisannya hanya berkisar dari anggota yang sama. Sementara di Kompasiana, semua anggota terus bertambah setiap saat bahkan setiap detiknya. Mengapa demikian? Sebuah fenomena yang hanya Kompasiana saja yang memilikinya😀

Kembali pada topik blog keroyokan para guru yang digelari Guru Era Baru, kehadiran anggota-anggota baru (atau anggota baru yang baru benar-benar menulis tetapi sebenarnya sudah lama menjadi pembaca semata bahwasanya disebut “silent reader” masih merasa bahwa dirinya sama seperti menulis blog menulis blog pribadi padahal sebenarnya menulis di blog keroyokan. Ada yang membawa dampak yang baik, namun lama-kelamaan kebiasaan  egois tersebut menyimpang menjadi kebiasaan monopolistik semakin menyemarakkan suasana (mengeruhkan cenderung menjenuhkan).

Apalagi jika ada anggota yang menuliskan atau lebih tepat “menyuarakan” ketidakpuasan atas stamina serta isi topik dari suatu blog keroyokan menambah “rempong” suasana di sana itu😛 ditambah dengan komentar-komentar pedas biasalah di forum-forum dunia maya juga membuat sebagian kecil pengeroyok tulisan menjadi bertumbangan atau bahkan memendam rasa sedih, kecewa, jengkel, kesal, tapi apa mau dikata itukan dunia maya!

Berakhirnya periode galau-isasi karena sampai saatnya ada member atau anggota keroyokan lain yang bisa melakukan suatu tindakan luar biasa dan menyebabkan member yang “nakal” dengan jargon “Psywar” memaksanya melakukan perubahan style atau gaya menggedor komunitas tersebut.

Kembali kepada egoisme penulis blog keroyokan, sementara sebuah komunitas tulis-menulis terus berkembang dengan dinamis, tidak bisa dipungkiri bahwa ke-egois-an adalah Musuh Utama dari setiap anggotanya. Terutama jika penilaian isi dan mutu tulisan bisa menggiring para administrator website tersebut untuk memilihnya sebagai Headline, artikel terpopuler, artikel yang banyak dibaca, artikel yang banyak di-klik (karena ditaruh di banner atau slider).

Rasa-rasanya menjadi risih, jika harus ditampilkan tulisan seru-seruan dengan alasan agar banyak yang datang mengunjungi blog asalnya ditaruh di web racikan bersama tadi.

Saya yakin dari perilaku individual yang cenderung monopolistik tadi bisa membawa dua kemungkinan, apakah blog komunitas itu akan semakin sepi atau bahkan ada anggota lain yang merasa tertantang untuk terus berkompetisi mengirimkan tulisan yang jauh lebih banyak lagi. Akhirnya menimbulkan persaingan yang mengarah kepada banyak-banyakan tulisan, sebab ini salah satu syarat dalam suatu perlombaan atau pertandingan ala Lomba Blog.

Mengapa Perilaku Monopolistik ini dibiarkan? Salah satu alasan menurut rekan saya yang juga menjadi administrator di blog tersebut mengatakannya sebagai Faktor U. Huruf “U” di sini menimbulkan berbagai interpretasi seperti Usia, Umur, Uzur. Saya pribadi memilihnya sebagai faktor Usia (disamarkan dalam Faktor U)😛

Semakin tua seseorang, semakin sulit ia bisa menerima kritik atau pendapat dari orang yang lebih muda darinya. Tetapi asumsi tersebut mudah dipatahkan dengan alasan “Tidak semua orang tua sulit menerima kritik dari orang lain” malah mengatakan “Itu hanya terjadi menurut orangnya saja” atau “Kita kembalikan ke orangnya masing-masing” – – yang tetap menurut saya pribadi, kegiatan monopolistik dalam Blog Komunitas adalah sesuatu yang sangat berbahaya dan berpotensi membubarkan komunitas.

Tapi di sisi lain, monopolistik dalam suatu komunitas juga perlu untuk menjaga keutuhan dan stabilitas Blog yang notabene dihidupkan oleh ritual dan acara tulis-menulis tersebut dengan “keakuan” yang terus-menerus, secara simultan dan tidak pandang bulu (bulunya siapa mungkin termasuk Bulgogi) – –  untuk terus Mengebom Blog keroyokan dengan tulisannya sendiri.

Tinggallah kepada para member atau anggota komunitas memaknainya sebagai Pancingan, Tantangan untuk berkompetisi dan berkreasi lebih gila lagi atau sebagai Hambatan sehingga perlu memunculkan akun anonim untuk membuat PsyWar?

#blog-keroyokan, #blog-komunitas, #egoisme-dalam-komunitas, #perilaku-egois-dalam-blog-keroyokan, #perilaku-egois-dalam-blog-komunitas, #psywar