Psy War

Istilah ini saya tarik setelah beberapa saat lalu di Blog Keroyokan untuk Guru yang saya ikuti hadir seorang member atau lebih tepatnya akun Anonim (akun tak bernama jelas — terselubung) yang menggedor suasana, memecahkan kebekuan mental dan bagi saya pribadi cenderung menebarkan fitnah, kebencian, kesal, teror.
Akun anonim sesuai dengan maksudnya, dibuat dengan tujuan mengubah sebuah “kemapanan” sebuah gaya yang cenderung menjadi ritual menjadi sebuah gaya yang spontan, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, suka-suka hingga tidak perlu mengerti dan memahami perasaan anggota lain dalam menanggapi atau mengomentari.
Pesan khusus dari Akun Anonim Pertama ini adalah Psy WarPsychology War. Perang Psikologis. Sebuah perang yang dirancang untuk menyerang benak (pikiran, mind) pihak lawan, menebarkan teror mental, menebarkan intrik dan konspirasi. Perang psikologis konon digunakan memecahkan keberanian yang berapi-api menjadi ciut nyali hanya dengan propaganda, provokasi tertulis atau sebaran berita Hoax (Palsu) atau bahkan dengan perang kata-kata, perang polemik, perang media, perang informasi, saling mematahkan klaim antarpihak, menurunkan moral bertempur, moral untuk bertahan, moral untuk berjuang, membuyarkan konsentrasi, menghilangkan semangat juang dengan satu tekad memenangkan sebuah tujuan besar, Untuk Menang!
Perang bisa berarti sebuah kegiatan menggunakan segala sumberdaya kekuatan menyerang pihak lain, yang tidak tahu, tidak siap, pura-pura tidak tau, tidak mau tau, tidak berdaya, lemah, tidak menyangka diserang atau pihak lain yang tidak waspada, kurang awas, lumpuh.
Perang membutuhkan taktik, perencanaan penyerangan, menggunakan segala informasi tentang kelemahan atau bahkan kelengahan lawan. Menguasai pikiran lawan dan kekuatannya sehingga lawan tidak bisa melakukan serangan balik atau mematahkan serbuan.
Perang Psikologis seolah tidak berhenti dalam waktu satu dua hari, seminggu dua minggu, bulanan bahkan tahunan. Ketersediaan sumber daya pelaksana peperangan kadang menjadi masalah selama perang dilaksanakan atau saat kampanye (perang) berlangsung. Selain sumber daya, yang menjadi daya juang dalam perang adalah Tekad, Semangat, Spirit. Juga Anggaran, Biaya menjadi faktor tersendiri.

Salah satu dalam Perang Psikologis tadi terjadi dalam Blog Keroyokan yang saya ikuti seperti pengantar di atas.

Akun Anonim Pertama akhirnya menjadi momok tersendiri sebab menjadi sebuah teror dalam dunia tulis-menulis keroyokan. Jika di forum yang sering saya baca, model-model akun Anonim seperti ini sering menjadi sasaran Bata Merah atau pengurangan-pengurangan kredit, di-banned, di-kick atau diusir dari forum (walau kata sebagian orang yang sudah biasa berbicara sebagai anonim bahkan pernah menjadi anonim, bahwasanya yang dituliskan, kritik yang disampaikan adalah benar) — seringkali benarnya dari segi yang dangkal menurut pengamatan si Anon, kan?

Hingga suatu ketika, akun anonim termakan buah Simalakama akibat pesan terornya, serbuannya yang membahana dan seolah mengenai sasaran, target tulisan. Pesan “perang” yang disampaikannya kepada orang lain (anggota lain) menjadikannya berdiri di tempat yang kokoh, membuat suasana panas dan tidak nyaman. Maka semakin sombonglah  si Anon Pertama karena merasa tidak ada saingan, anggota lain diserbu membabibuta dengan komentar-komentar pedas yang bikin sakit perut, mual-mual lalu muntah atau tidak sedikit anggota blog keroyokan yang hengkang atau memilih tidak melakukan apa-apa. Bisa jadi tudingan si Anon semakin menjadi-jadi dan berbuah sebagai realitas kebenaran.

Semula saya pribadi sangat kesal dan marah, cuma bisa apa di dunia maya ini. Saya dituding juara karena poin-lah, menulis karena mengejar poin, apa-apa demi poin. Saya dipecundangi habis-habisan. (Ngga habislah karena ada beberapa komentar saya juga menukik pedas kebalikan — seperti gaya komentar saya seperti supervisor-lah — cuma itu yang saya tulis)
Mungkin Anda akan bertanya “Mengapa Saya tidak melakukan klarifikasi atau perlawanan?”

Seandainya pun perlawanan dengan tulisan atau komentar yang saya kirimkan sebagai indikasi upaya menunjukkan eksistensi, hal ini tidak mengubah suasana karena Anon sudah di atas angin, tendangan, sepakan, terjangan, terkamannya mengharubiru dan mencekam serta menutup denting jemari di atas tuts QWERTY untuk tidak bergerak. Hanya mata yang beranjak terus mengamati dan membaca dengan hati panas, gundah gulana berasa mau menjadi Putera Petir saja!

Pilihan lain saya adalah tidak membuat tulisan tandingan atau tantangan, sebab saya berkeyakinan cepat atau lambat Anon Pertama akan cepat kehabisan amunisi, hilang kecerdikan, menjadi labil, terus menjadi sombong dan akan bertindak ceroboh karena kecongkakannya.
Tapi semua itu untuk apa?

Hingga selang beberapa hari kemudian sebuah akun Anonim lainnya (saya sebut Anon Hero) tampil sebagai “penyelamat muka” dari member komunitas yang jaim-jaim, tidak bergigi gerigi tajam, rahangnya sudah kuat menguyah membentang perlawanan, kering kerontang diksi melawan Sang Penantang Anon Pertama  yang dengan triknya dan kepiawaiannya bergelut di dunia maya yang berwarna kelabu (kalo saya sebut hitam —  saya sendiri tidak mengetahui pasti rekam jejaknya).
Menjelang bulan ini berganti, setelah sebulan penuh sebelumnya Anon pertama merasa benar-benar seperti Sun Gokong sedang naik awan Kinton — berhasil diganyang dengan simpel nan gamblang oleh Anon Hero. Begitu piawainya Anon Hero “menelanjangi” si Anon Pertama dengan akun-akunnya, blog-blog yang dibuatnya di dunia maya, bahkan hingga ke akun fesbuk, twitter, jejaring sosial yang seolah-olah tertutup rapat-rapat menjadi terbuka selebar-lebarnya!

Jadilah terang-benderang, pertempuran psikologis yang disebut Anon pertama sebagai Psy War tadi punah, tuntas, tidak ada lagi walau sempat ada “perlawanan sporadis” tapi sepertinya hanya berupa artikel tandingan yang masih kurang tegas dibanding artikel “Ganas” Anon Hero di blog komunitas.

Sekarang kedua Anon tadi, salah satunya menjelma membuka selimut wajahnya, kacamata hitamnya yang senantiasa mengisi avatar berubah menjadi sebuah wajah yang telah lama berkecimpung dalam forum tetulis itu, tampak semakin tirus karena pergulatan kehidupan. Sementara Anon Hero terbang entah kemana, menghilang, sirna tanpa jejak, atau mungkin ber-hibernasi seperti Beruang Kutub. Sama seperti seorang pendekar Mahasakti yang kemudian menghilangkan diri, menyepi ke puncak gunung pertapaan menguatkan keilmuan dan meningkatkan kesaktiannya.
Akhir filem yang tidak bisa kumengerti sampai sekarang, di puncak popularitas seharusnya seorang pejuang terus tampil ternyata dia memilih menyembunyikan diri kembali sama seperti kehadirannya yang misterius. Wow Fenomenal – mengilhami – menginspirasi

Sekarang tinggallah para penonton di gelanggang yang kosong. Penghuni komunitas yang kembali ke rutinitas, menulis apa adanya — mengomentari seadanya, ya kembali ke titik nol lagi.

Sambil menunggu pertempuran berikutnya

Kami sempat mendokumentasikan friksi-friksi tersebut menggunakan tangkapan layar monitor dan beberapa dalam dokumentasi tertulis, sebagai bagian pelajaran SANGAT BERMAKNA dalam bermain di website keroyokan tulis-menulis.

Psy War Never Ends
 

#psywar