Gegas Pagi

Sekalipun mata berat tak kuasa menahan lemahnya engsel mata, namun pagi ini saya terpaksa harus bangun lebih awal untuk menyiapkan instrumen penilaian ujian praktik. Tak terasa jauh lebih berguna bangun pagi dini hari karena badan menjadi lebih bersemangat dan nafas yang ditarik tidak menerima aroma yang kurang sedap sebab kalah bersaing dengan mahluk hidup lainnya.

Karena hari ini masih hari aktif ke kantor dan ke sekolah, seusai gerakan mencetak dan perkantoran bergegaslah para anggota rumah tangga yang masih bersekolah untuk membasuh diri, menyiapkan minyak wangi sembari pergi menuju sasana penggemblengan.

Ada yang menaiki angkutan umum, angkutan pribadi hingga berjalan kaki. Tak jarang masih tampak lengang jalan-jalan utama, karena kebiasaan terlambat berangkat rupanya merupakan warisan orang tua sebab kantor-kantor baru buka pukul 7.00 itu pun sering terlewatkan karena baru ramai aktivitasnya setelah pukul 08.00 wib.

Sayang sekali jika kebiasaan bangun pagi untuk memperkuat jiwa bangsa akhirnya perlahan rapuh dan luluh karena kebiasaan orang dewasa yang ke kantor saja suka kesiangan. Apalagi hanya lima hari kerja. Memang kota kecil ini belum terbiasa dengan kemacetan sebab jalan sepanjang 10 kilometer bisa dikebut tiba di tempat dalam waktu 10 menit kurang (termasuk melintas dengan sengaja saat rambu-rambu lampu lalulintas menunjukkan warna merah!)

Gegas pagi di saat hari baru menunjukkan pukul enam, memang menyenangkan karena jalanan masih sepi, para tukang sapu jalanan masih beraksi dan masih sedikit kendaraan yang berseliweran tidak kebut-kebutan dikejar deadline.

#exclude, #gegas-pagi, #ode