Karir Tamat !

Akhir dari semua pengabdian para aparatur sipil atau pegawai negeri adalah masa pensiun. Banyak rekan-rekan saya, yang guru maupun non-guru telah memasuki masa tersebut. Ada yang memasukinya dengan penuh senyum kegemilangan sebab telah cukup memiliki tabungan yang akan dihabiskan di masa tuanya, ada juga yang penuh harapan cemas saat memasuki gerbang purnatugas tersebut. Bahkan ada yang tidak tahu menahu bahkan merasa, jika dirinya telah dipensiunkan!

Sepertinya memasuki masa penghentian sebagai pegawai negeri atau aparatur sipil negara bagi sebagian orang adalah normal dan wajar, tetapi bagi sebagian lagi yang “haus” akan kekuasaan, ketenaran dan manis madu memerintah adalah hal yang sulit untuk dilepaskan. Maka berbondong-bondonglah pensiunan-pensiunan baru ini berkiprah dalam komunitas lain yang diharapkan dapat memberikan mereka “jalur lain” untuk kembali mereguk madu memerintah yang netebene adalah keinginan berkuasa atas orang lain.

Rekan-rekan kami yang tugas sehari-harinya berbicara di depan kelas pun, tidak luput dari post power syndrome tersebut. Mungkin pula termasuk saya sendiri! Walau masa kerja saya masih cukup lama di dimensi yang berkaitan dengan pemerintah, namun lambat laun masa itupun akan saya masuki dan saya tempuh. Sama seperti giliran anak-anak mulai dari bayi hingga akhirnya menjadi mahasiswa. Hal itu merupakan proses panjang yang tanpa disadari tapi terus dijalani hingga mencapai tepian harapan.

Sepanjang jalanan lurus di daerah G. Obos Road yang panjangnya mencapai 20an kilometer dari ujung hutan hingga ujung bundaran kecil, ada dua stasiun perhentian sementara karena dipasang lampu lalu lintas. Motor-motor kecil dan besar yang masih kencang dan baru, pun yang sudah berusia dan cenderung menuju tua berlomba-lomba memacu kecepatan menyempatkan diri “lolos” dari jebakan lampu merah. Sama seperti itupula para aparatur sipil yang masa-masa ini pun masa mendatang perlahan-lahan memasuki masa pensiun mereka.

Perlombaan itu masih harus terus diikuti dengan membuat persiapan demi persiapan selain cara klasikal, yakni menabung di BTPN atau tabungan pensiunan, menabung di bank konvensional, meminjam sejumlah kredit pada bank kreditur yang masih mempercayai surat keputusan pengangkatan dan pangkat terakhir sebagai agunan untuk memulai membuka usaha saat masa purna tiba.
Mulai dari usaha pencucian mobil dan kendaraan roda dua, pengisian air minum dari air pegunungan di kota kecil ini, pencucian pakaian kiloan (laundry) siap antar jemput dan kirim, membangun peternakan ayam potong dan ayam yang hobinya bertelur sehari-hari, memelihara burung puyuh, memelihara burung berkicau yang bisa dilombakan dan bisa menjadi juara penyanyi Bird Idol di setiap bulan pada komunitas pencinta burung, menjadi penjahit, menjalankan bisnis ekspedisi paket dan barang, membuka usaha fotokopi dan penjilidan serta pengetikan. Dan jika tidak ada yang berminat mencari uang hanya untuk membunuh waktu karena tidak lagi bekerja dengan aktif di kegiatan sosial, kegiatan religius hingga aktif berkiprah di organisasi masyarakat maupun organisasi politik.
Kegiatan-kegiatan itu merupakan sebagian yang saya dengar, saya lihat, dan saya ikuti dari rekan-rekan ini. Mungkin pula itu rencana saya saat masanya tiba.

Biasanya di akhir masa pengabdian, para pegawai ini akan mendapat santunan hari tua, tali asih pensiun atau uang pemulangan dari suatu lembaga yang mengurus pembiayaan pensiunan. Bisa saja uang itu sangat cukup untuk jalan-jalan ke luar negeri dan berwisata, tapi bisa juga dijadikan modal berkampanye memulai usaha baru. Memasang reklame atau spanduk, menandakan kesiapsediaan para mantan abdi negara ini kembali berkiprah di kuadran berbeda.

Bila masa itu tiba, apa yang bisa para pegawai muda persiapkan dan tidak terlena?
Rekan muda saya ada yang mulai membangun perumahan, membangun rumah kost dan barak untuk disewakan, juga membangun rumah toko dengan nilai pinjaman dan cicilan yang jor-joran kadang bisa membuat mandi tanpa sabunan selama setahunan, apalagi membeli deodoran sudah tidak diperlukan — semua itu demi persiapan hari tua (masa depan yang kayaknya cenderung suram). Apalagi nilai rupiah terus tertekan akibat mata uang asing, menyimpan mata uang asing pun dalam dollar amerika, dollar singapura, yen Jepang, Euro, Poundsterling, Real, Kronos, Crown, Won pun belum tentu menjanjikan karena harus berhubungan dengan perbankan.

Mempercayakan tabungan pensiunan pada lembaga investasi pun, takut tidak bisa dikembalikan malah akhirnya dikemplang para investor. Ketakutan demi ketakutan akhirnya melanda para pensiunan tentang madesu-mereka!

Mengapa ini semua terjadi? Karena selama bekerja pensiun tidak diperhitungkan, mereka selalu memperkirakan akan terus bekerja tanpa henti sampai akhir hayatnya.

Hal ini mungkin berbeda dengan para pengikut teologi kemakmuran, yang terus mendengungkan pensiun di usia muda, pensiun dini secepat mungkin agar keluar dari perlombaan tikus (Rat Race). Berlomba-lomba menjadi orang kaya hingga ultrakaya (dengan kekayaan hingga di atas sejuta dollar Amerika) — buku-buku semacam ini dulunya laris di pasaran, tapi sekarang perlahan menghilang dan lenyap tanpa kesan karena akhirnya sebuah kebenaran terungkap jika “kekayaan mereka” ini sebenarnya adalah hasil dari penjualan buku tentang impian kesuksesan tersebut. Ekonomi kembali melesu dan terus melesu, depresi dan sentimen pasar yang tidak lagi positif menambah kegalauan hati, mau berusaha takut rugi, tidak berusaha tidak ada pekerjaan berarti hidup dalam kebosanan.

Dengan demikian tamatlah karir !

#apa-yang-anda-lakukan-setelah-pensiun, #karir-tamat, #keguruan, #masa-pensiun, #pendidik-dan-tenaga-kependidikan, #pensiunan, #post-power-syndrome, #purnatugas, #rudy-hilkya, #saya-tamat