Tiada Hari tanpa Asap

Sudah sebulan lebih kota ini terlanda serangan asap, hasil pembakaran akumulasi dari lahan, pemebrsihan kebun, pembersihan pekarangan, membersihkan sampah yang klimaksnya adalah dibakar dengan alasan residu pembakaran bakal menjadi zat hara penyubur bagi tanaman.

Alih-alih mencapai kesuburan, efek burning ini malah menjadi bencana karena telah menimbulkan dampak buruk bagi aspek-aspek kehidupan lain. Seperti tertundanya penerbangan hingga batalnya penerbangan reguler, jalan-jalan dan sungai menjadi rawan kecelakaan karena jarak pandang yang terbatas hingga kurang dari 100 meter, aroma asap yang menusuk dan menyebabkan sudah lebih dari 2000 orang menderita infeksi saluran pernafasan, kasus gangguan kesehatan karena terinduksi karbon monoksida, sampai akhirnya sekolah diliburkan.

Rasa dalam tungku pengasapan, mirip daging asap dan ikan asap akhirnya. Anak-anak pun menjadi korban tak terelakkan bukan hanya karena keadaan yang tidak sehat tetapi harus kehilangan orang tua kandungnya karena kecelakaan lalu lintas hingga meninggal dunia.

Ironisnya, ada yang menjadi korban karena membakar lahan kebun sendiri, terkepung api!

Sebagian besar lahan di Kalimantan Tengah ini terdiri dari gambut, tanah yang labil walau sebenarnya bukan tanah melainkan lapisan humus tipis yang layaknya akar-akar serabut halus yang berpilin dan membentuk lapisan demi lapisan di atas rawa hutan. Mirip seperti sponge atau tanah berpori-pori.
Karena bentuknya mirip seperti kapas/ spons saat kering atau lebih cocok dinamakan tanah sekam, maka jenis lapisan ini mudah sekali terbakar dan sulit dipadamkan jika sudah memendam api. Karenanya jika tanah gambut terbakar harus ada parit penahan atau parit pembatas hingga air dasar untuk menghentikan penjalaran api.
Pemadaman kebakaran lahan di atas gambut tidak hanya disemprot dari atas, atau dibom dengan air tetapi juga dengan pengeboran tanah dan mencungkil tanah gambut sebagai pembatas sebaran kebakaran. Tanah berpori cara memadamkannya harus digali seperti pori-pori yang banyak dan dijadikan tandon air saat resapan api mulai berkuasa. Hanya itu satu-satunya cara memadamkan api di tanah seperti ini.

Namun kini, masalah asap disebabkan kiriman dari dua kabupaten terdekat yakni Kabupaten kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau, sehingga BNPB melakukan survei dan observasi ke dua daerah kabupaten ini yang secara geografis mengelilingi kota Palangka Raya.

Barangkali seperti ini yang dirasakan rakyat Malaysia dan Singapura beberapa tahun lalu, saat dikirim paket asap pekat ke negeri mereka. Dan kami merasakan akibatnya sekarang. :-( 😦
Jika tidak dilakukan dengan teknik yang tepat dan semata-mata mengharapkan musim kemarau cepat berlalu, maka tungku asap ini tidak akan pernah berhenti beroperasi.
Asap akan selalu ada di mana-mana.

Salam Pekat

Posting bersama WordPress di Android (diedit bersama)

#api, #asap, #kalimantan-berasap, #kemarau-panjang, #lahan-kering, #musim-kering, #pekat, #smoke-borneo