Kejutan Senja

Hari rabu aku hadapi dengan semangat bahkan cenderung berlebihan, seolah-olah ada kuasa dan kekuatan yang bernyala-nyala dalam diriku. Tak kuhiraukan asam otot yang menumpuk di betis dan paha sebagai residu bermain bulutangkis senin sore, yang kupikir ini adalah bagian dari olah raga.
Sempat tidur siang bukan menjadi garansi bahwa tubuh segar berisi, apalagi cemilan dan makan siang terlewatkan karena sudah menyerap nutrisi dari sate plus ketupat di kantin sekolah siangnya, juga bukan hal yang memadai untuk aktivitas kemarin.
Sore harinya sambil mendengarkan obrolan anak dan istri tentang LDK dengan tugas beristilah aneh-aneh, juga bimbel sore untuk kelas 12, sambil menikmati bakso Arema G. Obos.
Sorenya kami bapak-bapak kelompok komunitas gereja berjanji untuk melanjutkan eksebisi pebulutangkisan sebagaimana awal pekan ini 10-11-2014. Permainan baru terjadi lebih kurang setengah lima dan raket berayun setengah jam kemudian. Tidak ada rasa penat atau yang aneh kurasa. Hingga pada pukul enam senja, setelah Pak Mardianus tiba menggantikan pemanasan bersama Pak Elan, tiba-tiba sesuatu menyerang sekujur tubuhku.

Dimulai dengan detak jantung yang bergerak sangat cepat, kelenjar-kelenjar bekerja maksimal tidak seperti biasanya, kurasa telapak tangan menebal, sekujur wajah membengkak seperti biduran dan gatal tak tertahan merajam. Kupikir ini akan berhenti segera, ternyata nafasku menjadi tersengal tanpa rasa sesak namun telapak seperti ditusuk selaksa jarum dan kaki terasa dingin beku.
Saat rekan-rekan memanggilku, aku sudah lemas berbaring di atas selasar samping gereja, beralas tas raket dan sepatu yang tak kuhiraukan lagi kotor atau tidak.
Aku meminta kepada pak Koster gereja untuk mengurut tanganku yang lemas sembari terus memberi kesadaran, mataku tak bisa berfungsi, gelap dan terang bergantian. Yang kubisa hanya mendengar teriakan panik rekan-rekan yang berarti membubarkan permainan.
Aku benar-benar lemas tak berdaya, suasana tak lagi kukenal dan hanya bisa berpasrah dengan berkali-kali memanggil Yang Maha Kuasa.
Doa tak lagi terbendung, sekejab badan lemas tak bertenaga, kepala tak lagi dapat ditegakkan, aku hilang kendali, aku pingsan!
Kurasa lama sekali pergerakan dari tepi selasar menuju mobil Pak Elan yang sudah bersiaga di lapangan, tak berapa lama yang kudengar antara rumah dan UGD dr Dorys Silvanus hanya beberapa kejab, mataku masih belum jelas melihat, yang kubisa hanya menggenggam erat tangan Mardianus sambil berkata lirih dengan istriku tercinta, berusaha sadar dan tidak tertidur melambatkan denyut jantung atau mungkin gerbang maut.
Walau masih nanar karena pandangan berkunang-kunang yang berubah menjadi kelebatan sinar berpendar, sempat menghampiri perasaan nyeri dan pilu bagai seorang buta tiada penglihatan.
Aku pasrah jika harus kehilangan penglihatan, entah bagaimana caranya aku menulis dan bekerja lagi jika ini terjadi? Kebutaan menjadi momok untukku kala itu, tapi rupanya itu ketakutan palsu karena Tuhan dalam Yesus menguatkan otot penglihatan sehingga aku masih bisa menangkap kode-kode rupa bak superhero Dare Devil.
Waktu terus bergulir, aku merasakan citra RSUD Doris Silvanus sudah merapat dan petugas-petugas berdatangan menyambut diriku. Aku tak kuasa duduk dan hanya rebah di atas brankar, setelah kekuatan yang tersisa kuserahkan untuk mengangkat diri aku tak kuasa lemas lagi dan semakin lemas hanya kudengar suara memanggil-manggil.
Rekan-rekanku mungkin masih terkejut dengan kondisi drastis itu, aku tak berdaya didorong menuju ruang tindakan dengan pemeriksaan tekanan darah, EKG normal, gula darah normal, tanpa sesak nafas dan nyeri dada dan akhirnya sesuai asumsi tensiku terukur pada poin 100/70, angka terendah yang pernah kudapat dalam riwayat kesehatanku. Aku sempat tanya dengan dr Sandi yang mendiagnosaku, dokter muda yang wajahnya tertutup masker dan menyebut bahwa aku terserang hipotermia.
Selama sejam lebih observasi dan penormalan kembali dari hipothermia yang kualami, walau tak sempat mengukur suhu badan. Semua teman berkisah tubuhku dingin tak berdarah, putih pucat pasi, mata layu dan menggigil hebat, kulitku berubah kuning memucat seperti orang jepang dan mata sipit lainnya, Kurasa kubergumam tak menentu di antara kiri kanan pasien lain yang terus berdatangan.
Aku terkilas ruang itu adalah ruang tindakan almarhum Ayahku 18 tahun lalu sebelum menghembuskan nafasnya.
Inilah kepasrahan yang kurasa, tetapi doa dan iman yang kuat dari istri bu Defina, beserta pendeta Walter sekeluarga, pak Elan dan pak Mardianus juga pak koster sekeluarga sudah mengelilingi dan menggenggam erat tanganku, kurasakan pijatan di sekujur badan dengan rasa kasihan bermunculan dan tak terasa airmataku menetes haru dengan semya itu.
Kasih yang sungguh berarti walau bukan dengan materi
Kasih yang tulus dari anggota lingkungan gereja melebihi saudara
Semua tunduk berdoa itu yang kurasa nyata terjadi.

Pemulihan ini berlangsung hingga pukul setengah delapan malam, bermunculan rekan anggota paduan suara dan lingkungan pelayanan, berturut-turut pak John Samson, pak Herly Baron, Pak Bambang Assau, pak Setya Tejasukmana dan terakhir Pak Iswandi Samad. Aku bisa sadar dan perlahan bangkit dari pemulihan setelah perawat Alyssa menyuntikkan vitamin ke lengan.
Pukul delapan aku sudah berada di rumah diantar oleh istri dan adikku yang menyetir mobil, lemas dan perut kembung itu yang menjadi oleh-oleh senja hingga malam harinya.
Selama tindakan dengan bantuan kartu Askes, urusan kesehatan berbiaya enam puluh ribu sudah menuntaskan rasa tak berdayaku.
Antara khayal, fantasi dan rasa malu semua terkubur jadi satu sebagai memori penting yang sudah kualami.
Bubur nikmat pekat dengan suwiran ayam goreng tak sanggup kusikat, tanpa antasida yang menetralkan gas gastrokolik yang ada dalam abdomen dan intestinalku.
Pagi ini tak kusia-siakan kembali nafas dan kehidupan pemberian Tuhan, menggambarkan pengalaman dalam tulisan
Membagikan melalui blog perasaan dan curcol ini
Di tengah kehampaan meninggalkan kelas 12 ipa 6 yang hari ini kujanjikan belajar medan magnetik, mudah-mudahan ada yang membaca blog dan twitter bahwasanya mereka cukup mempelajari topik dan menjawab soal tugas magnetika di quipperschool.com
Sms pesan izin kepada bu Kepala Sekolah kuminta kepada nyonya rumah untuk menyampaikannya tadi pagi sebelum berangkat kerja
Siang ini pukul 13 jika memungkinkan aku harus hadir pada rapat inti dan hari sabtu 15 nov nanti mudah-mudahan bisa brgabung di kelas inspirasi Palangka Raya demi Hari Inspirasi 24 November 2014 di SD pinggiran Kota.

Terima kasih atas kehidupan ini ya Tuhan.

Posting bersama WordPress di Android

#biduran, #kesehatan, #medikal, #olahraga, #pemulihan, #perawat, #tekanan-darah