Kompetensi Guru Fisika

Kompetensi Inti Guru mata pelajaran Fisika pada SMA/MA menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 (masih belum ada yang baru untuk mengubah atau merevisinya) adalah :

  • Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori fisika serta penerapannya secara fleksibel (artinya pemahaman konsep, hukum, teori fisika tidak berjalan dengan kaku atau ortodoks, misalnya menelaah cara pemahaman lain mengenai teori atom, memilah hubungan analogis antara muatan listrik positif dengan negatif sebagai hubungan pertemanan atau persahabatan sosial)
  • Memahami proses berpikir fisika dalam mempelajari proses dan gejala alam (proses berpikir fisika adalah induktif yang kemudian menjadi deduktif, dari bentuk proses memahami yang meluas lalu menciut menjadi lebih spesifik, dari ukuran makro besar menjadi ukuran mikro renik ke dalam jangkauan pemahaman fisikalis) – baca lagi kompedium didaktik fisika bagi calon guru fisika
  • Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala alam (semua bahasan mengenai kejadian alam disederhanakan dengan ikon-ikon formula matematika, membahasakan alam dengan matematika – sesuatu kerumitan tersendiri bagi guru fisika, apakah ini alasan untuk membuat fisika menjadi mengasyikkan tidak bikin pusing atau malah memusingkan diri sendiri dan orang lain yang diajar fisika? ~ jangan tanya kenapa)
  • Memahami struktur (termasuk hubungan fungsional antar konsep) ilmu Fisika dan ilmu-ilmu lain yang terkait (keterkaitan dengan ilmu-ilmu lain dalam kecabangan fisika seperti fisika kuantum, fisika optik, fisika gelombang hingga ekonofisika)
  • Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum fisika (cara berpikir menggunakan pendekatan saintifik 5M – mengamati, menanya (kepada siapa? bisa kepada teman, orang lain, guru atau diri sendiri), kemudian pertanyaan tadi diarahkan ke proses  menalar menjelajah bereksplorasi menggunakan media pustaka, literatur (bacaan, jurnal ilmiah, tulisan terdahulu, penelitian terdahulu), mencoba (menerapkan dalam eksperimen atau percobaan) diakhiri dengan mengembangkan jejaring kesimpulan atau menyebarkan hasil eksperimen percobaan tadi dalam laporan yang dipresentasikan diseminarkan atau dipublikasikan untuk mendapatkan pengakuan atau perbaikan dari pihak lain yang “mungkin” memiliki pengetahuan lebih baik, hal ini berarti  Menerapkan konsep, hukum, dan teori fisika untuk menjelaskan fenomena biologi, dan kimia. (jejaring kecabangan fisika tidak hanya monosektoral semata melainkan membangun jejaring dengan fenomena ilmu alam lainnya)
  • Menjelaskan penerapan hukum-hukum fisika dalam teknologi terutama yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari (memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu untuk mengefisiensikan pekerjaan manusia bukan untuk merumitkan dan mempersulit kehidupan manusia) ~ seperti kendaraan transportasi, alat ukur, sensor, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi memasak makanan, teknologi pengawetan makanan untuk astronot, teknologi kelistrikan dan sumber energi alternatif, dan banyak lagi eksplorasinya.
  • Memahami lingkup dan kedalaman fisika sekolah (nah ini bagian yang bisa diperdebatkan sesuai dengan kesiapan dan Standar Kompetensi Lulusan masing-masing sekolah, apa yang dirasa hari ini cukup ternyata untuk masa mendatang dalam jangka waktu 25-50 tahun mendatang hal itu akan menjadi suatu kekurangan ~ perlunya kerjasama pendalaman minat atau kedalaman materi dengan perguruan tinggi yang berkompeten atau adanya kontinuitas pembahasan lingkup dan kedalaman materi ajar fisika menjadi lebih komprehensif dan benar-benar bisa membekali peserta didik tingkat satuan pendidikan masing-masing, terutama dari segi kemampuan bernalar, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir tingkat tinggi selain kemampuan berpikir tingkat rendah)
  • Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan bidang ilmu fisika dan ilmu-ilmu yang terkait (hal ini berkaian dengan dunia industri atau dunia usaha, adanya pengembangan keilmuan dari segi pembelajaran fisika di tingkat satuan pendidikan menjadi fungsional atau bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari misalnya pemanfaatan roket air untuk memadamkan api di tempat yang jauh tanpa harus diatur selang oleh mobil pemadam kebakaran, pemanfaatan daya urai lensa untuk mengukur jarak kendaraan bermotor yang tengah menyalakan lampu, memanfaatkan daya resolusi lensa untuk mengukur jarak obyek yang sangat jauh di antariksa, pemahaman hemat energi dan efisiensi daya untuk mengamankan cadangan energi listrik di rumah tangga masing-masing, menggunakan kearifan lokal untuk menyediakan sumber daya energi alternatif sesuai situasi kondisi geografis dan topografi ~ bisa dikembangkan menjadi banyak bidang lainnya).
  • Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan kerja/belajar di laboratorium fisika sekolah (K3 di laboratorium fisika, tidak semua sekolah memiliki laboratorium dan sekarang kit-kit praktikum fisika bisa dibawa secara mobile ke kelas-kelas tanpa harus takut dengan kecelakaan kerja, kecuali jika berkaitan dengan beban dan beban itu lalu diputar-putar dengan benang kemudian beban lepas dan kejedut dahi peserta didik atau  guru fisika baru itu yang bermasalah ~ berarti berkaitan dengan prosedur melaksanakan percobaan fisika yang benar dan aman)
  • Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak komputer untuk meningkatkan pembelajaran fisika di kelas, laboratorium, dan lapangan (piranti lunak komputer yang paling sederhana bisa aplikasi openoffice atau MS Office, excel atau opencalc untuk perhitungan dan simulasi, powerpoint atau openpresenting untuk menyampaikan hasil percobaan dan gagasan ~ sementara alat-alat sensor laboratorium kebanyakan mahal-mahal dan canggih-canggih sekolah di sini saja ngga sanggup beli kecuali bekerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki laboratorium yang lengkap dan dirawat selain itu alasan return of investmen dari pembelian alat-alat peraga, alat hitung dan piranti lunak komputer dalam pengajaran fisika belum dirasa perlu sesuai standar kompetensi lulusan ~ karena SKL saat ini belum berorientasi pada produksi sumber daya manusia melainkan sebagai produk pengembangan khasanah keilmuan dan hal itu sangat elegan dalam cita-cita pendidikan fisika)
  • Merancang eksperimen fisika untuk keperluan pembelajaran atau penelitian (perlu disesuaikan dengan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan seperti laboratorium, kecukupan peralatan percobaan atau alat praktikum, banyaknya kelas yang diajar serta alokasi dana yang tersedia melalui Bantuan Operasional ~ guru fisika tanpa tertulis wajib merancang dan merencanakan kegiatan laboratorium yang paling sederhana seperti pengukuran besaran dan satuan dengan alat yang tersedia, menentukan massa jenis benda dengan bantuan gelas dan timbangan yang sedikit akurat tentunya atau mengukur konstanta pegas dengan beban manusia sambil mengajak peserta didik dan guru fisika berolahraga berayun-ayun, menentukan jarak tembak roket air dengan sudut elevasi dalam pembahasan gerak peluru dan lain-lain sesuai dengan khasanah lokal satuan pendidikan masing-masing)
  • Melaksanakan eksperimen fisika dengan cara yang benar (menyesuaikan kondisi dan situasi setiap satuan pendidikan dan sesuai arahan pengawas mata pelajaran yang berkompetensi sesuai latar belakang pendidikan yang diampunya)
  • Memahami sejarah perkembangan IPA pada umumnya khususnya fisika dan pikiran-pikiran yang mendasari perkembangan tersebut (menjadi guru sejarah sangat perlu bagi guru fisika dengan banyak membaca latar belakang penemuan dan mendongengkannya kembali ~ dalam cara yang jauh lebih menyenangkan dan menciptakan kebermaknaan atau bisa menjadi bagian tugas tatap muka berstruktur atau kegiatan mandiri tidak terstruktur sebagai pengembangan sikap ilmiah peserta didik ~ tergantung dengan ketersediaan buku di perpustakaan, layanan internet dari provider telepon seluler atau keinginan bersama untuk membekali generasi bangsa menjadi generasi emas Indonesia tahun 2025 – 2045 kelak)

Kompetensi-kompetensi inti kemudian dijabarkan menjadi kegiatan atau aktivitas guru di kelas, di sekolah, di kantor, dan jika boleh seluruh kegiatan belajar dan mengajar dalam kesehariannya menjadi jiwa yang utuh dalam peranan sebagai pendidik dan pengajar mata pelajaran Fisika.
Sampai hari ini guru fisika masih sebatas sebagai pengajar rumus belaka, memberikan hapalan dan memberikan latihan soal untuk diselesaikan kemudian memberikan soal serupa dalam ujian akhir sekolah itu karena selain karena masih ada penafsiran yang belum tepat, juga karena perhatian pemerintah lebih fokus pada 9 mata pelajaran wajib dibanding ke mata pelajaran peminatan belum lagi faktor lain seperti letak geografis satuan pendidikan, topografis dan kondisi psikologis dari para peserta didik dan pendidik yang jumlahnya terbatas di daerah pulau terluar dan terdepan, di perbatasan, di tempat terpencil, di pelosok yang sulit dijangkau dari ibukota kecamatan sekalipun.

Saya setuju bahwa Ujian Nasional adalah pemetaan dan bukan penentu kelulusan, karena hak menyatakan lulus atau tidak adalah pihak Satuan Pendidikan masing-masing bukan dari hasil Ujian Nasional ! Apalagi jika UN adalah uji sampel saja tidak ujian klasikal dari seluruh pelosok penjuru negeri ini, demi menyelamatkan keuangan negara.

#5m, #biologi, #fisika-sekolah, #fisika-sma-2015, #fisika-sma-2025, #fisika-sma-2045, #guru-fisika, #ilmu-alam, #ipa, #keguruan-fisika, #kimia, #kompetensi-guru-fisika, #kompetensi-guru, #kurikulum-fisika-satuan-pendidikan, #kurikulum-fisika-sma, #lptk, #mata-pelajaran-fisika, #matpel-fisika-sma, #mts, #pendekatan-saintifik, #pengajar-fisika, #pengajaran-fisika, #pengajaran-fisika-sma, #permendikbud, #permendiknas, #peserta-didik-mata-pelajaran-fisika, #satuan-pendidikan-fisika, #sd, #smp, #tenaga-pendidik-fisika