Ceritaku Ceritamu Juga

Senin, 5 Januari 2015 – jalanan pada rame ngebut dan antre untuk tiba di sekolah masing-masing. Tidak terkecuali saya demi mengantarkan para buah hati dan anak-anak emas generasi masa depan Bangsa Indonesia saya hantarkan satu persatu menuju halaman sekolah mereka. Ada yang di sekolah dasar hingga sekolah bagian atas (karena kebetulan kelasnya ada di lantai dua).

Pagi itu semuanya rapi dan berbaris membangun upacara awal tahun 2015 dengan inspektur upacara Ibu Kepala Sekolah, Beliau berkeinginan bahwa SMAN-2 Palangka Raya harus menjadi contoh dan teladan bagi sekolah lain, terutama para melalui perilaku, kelakuan, kesantunan dan prestasi para peserta didik SMAN-2 Palangka Raya. Upacara bendera hari itu sangat inspirasional, tetapi sayangnya ada yang kurang yakni tidak ada halal-bihalal awal tahun dengan salaman bersama antara Guru dengan para peserta didik yang hadir.

Sayang ya, karena protokol upacara kurang tanggap atau kurang cekatan meniru hal-hal baik di instansi lain yang perlu diterapkan di SMAN-2 Palangka Raya ini. Jadinya awal tahun yang segar jadi kurang greget hanya karena kurang salaman, masa hanya akhir tahun dan itupun dengan siswa kelas XII saja. Coba kalo seluruh kelas dan angkatan yang hadir upacara hari itu diajak berbaris untuk bersalam-salaman dan potret bersama, pasti lumayan serunya !

Agar tidak terulang tahun depan, 2016 – jika saya diberi kesempatan menjadi protokoler upacara bendera Setiap senin.

Seusai upacara bendera, jadwal mengajar sudah berubah dan kami serta beberapa rekan mendapatkan jam pelajaran terakhir pada hari-hari pertengahan minggu dan berada di awal kegiatan mengajar di awal dan akhir pekan. Kejutan yang memang tidak diharapkan, tapi apa boleh terjadi tetap harus dilaksanakan dengan sepenuh hati dan tanpa keluhan!

Kelas yang saya pagi itu adalah kelas binaan sejak kelas XI dan berisi anak-anak ajaib dan misterius. Expresso sebutannya bukan hanya karena berisi orang-orang penyuka kopi tetapi juga penyuka begadang ala bang Haji Oma Irama, terutama setiap tugas mata pelajaran yang meminta dibuatkan kliping, makalah, resume hingga karang-mengarang berupa tulisan sebagaimana yang saya minta kepada mereka. Tiga diantara mereka yakni Ritsy Amansa dalam tulisan Semesta berbicara dan Resolusi Kekuatan ketabahan Keyakinan Keikhlasan , Ghia Anindita yang masih terus mencoba menjadi sales shampoo kelas kakap dalam tahun baru cerita baru semangat baru, dan Widya Dwi Astuti yang sangat ajaib dan manis serta terus berusaha menurunkan bobot tubuhnya dengan metode Deddy Corbuzier dalam hari pertama masuk sekolah di semester akhir.

Mereka bertiga yang terdahulu mengirimkan tugas setiap pekan yakni mengisi blog atau menulis harapan, target, capaian, keinginan untuk siswa kelas XII IPA-6 expresso sampai bulan April 2015 nanti- adalah mesin rekam ajaib yang mampu menyiratkan tekad, semangat, dan kiat mencapai sebagian kecil cita-cita mereka melalui celoteh ringan, hingga berat untuk ukuran siswa SMA, mengumbar cita-cita dan impian mereka dalam dunia khayali yang mudah-mudahan menjadi fondasi kehidupan mereka di masa mendatang. Selain itu kepiwaian menulis dan menorehkannya dalam tulisan merupakan senjata terhebat yang perlu terus-menerus dilatih dan diasah agar menjadi peralatan yang sangat mendukung pencapaian target akademikus mereka.

Tidak ada yang berhasil mencapai prestasi tanpa rencana dan hasil kerja tertulis, piagam, plakat, sertifikat hingga bingkai-bingkai hadiah selalu dituangkan dalam keragaman seni tulis dan seni gambar. Berarti keahlian menulis, menggambar sebagai sarana ekspresif sangat penting untuk terus dibangun, dilatih, dibina, dan diberdayakan sebagai ilmu keutamaan dalam segi modernisasi kehidupan masyarakat akademik dan majunya peradaban.

Sejarah-sejarah masa lalu, kemuliaan dan kejayaan masa lampau atau bahkan rencana-rencana masa depan hadir dan terbaca melalui seni tulis-menulis, gambar-menggambar, tablet-tablet, prasasti, emblem, tugu-tugu, monumen-monumen, candi-candi,  dan bisa dibaca oleh generasi berikutnya. Pola huruf, aksen, dialek menjadi langgam moderat dalam kehidupan masyarakat terkini. Tak pelak menulis dan membaca adalah sahabat terdekat yang menunjukkan keahlian kita dalam kancah kemajuan kehidupan sekarang.

Walau siswa PAUD tidak harus bisa membaca dan menulis, tetap saja saat masuk SD diharapkan mampu membaca dan menulis. Praktik ini tetap terus ada walau pengawasan dari instansi terkait seolah memaklumkan bahwa hal tersebut adalah prasyarat mutlak agar bisa diterima di sekolah tingkat dasar. Apalagi pada tingkat-tingkat selanjutnya, tidak hanya menulis dan membaca, tetapi juga kemampuan menyatakan pendapat secara oral atau lisan pun menjadi acuan diterima atau direkrut untuk bisa diterima dan diakui sebagai siswa suatu perguruan.

Kali ini Ritsy Amansa menuliskan rangkaian lema yang dibuatkan mengalir dan wejangan nasehat dari orang muda untuk orang muda, terlepas dari sikap menggurui. Sekuat-kuatnya Ritsy yang menorehkan prestasi menjuarai berbagai kompetisi sains baik perorangan dan kelompok, terakhir adalah juara dua lomba Matematika regional Kalimantan yang diselenggarakan salah satu universitas negeri terkemuka di pulau ini, juga mengikuti lomba sains kedokteran di universitas yang sama ~ sempat merasakan depresi dengan paceklik prestasi dan masa depannya. Keinginan dan harapannya kadang berjalan tak beriringan dengan kenyataan atau fakta, kegagalan pun tidak sekali menghampirinya tetapi Ritsy Amansa terus berusaha bertahan, berjuang keluar dari kegagalan dan kejatuhan harga diri dalam proses yang tidak sebentar.
Ritsy Amansa sadar sepenuhnya bahwa hal-hal terbaik yang menghampiri juga harus diterima sama seperti kegagalan-kegagalan terbaik yang mengikutinya. Kekuatan-Ketabahan-Keyakinan dan Keikhlasan sebagai motto semangat barunya di 2015 ini.

Widya Dwi Astuti atau yang sering dipanggil Widya, menorehkan pengalaman dan kesannya mengikuti pelajaran pagi itu dengan menyitir dan menyadur ulang semua kata-kata saya yang saya lontarkan di depan kelas, mulai dari rencana mereka menghadapi perjalanan dengan lintasan terjal dan berliku hingga cerita analogi saat konferensi di tepi Danau Wassen hasil menonton film Conspiracy di HBO beberapa waktu lalu. Keberagaman dan hal-hal yang variatif tidak homogen adalah kekayaan. Kekayaan itulah yang menyebabkan pertemanan dan persaudaraan serta hubungan sosial menjadi lebih mengasyikkan dan menyenangkan. Ide untuk tidak mencoret seragam saat menerima pengumuman kelulusan hingga perbedaan kepercayaan yang dianut para umat beragama adalah kekayaan sosial yang harus dijaga dan dipertahankan merupakan hal-hal baik yang dipandang oleh Widya Dwi Astuti ini.

Cewe ketiga yang saat ini masih berjuang mengatasi gejala-gejala pada wajah bernama Ghia Anindhita, sama seperti Widya Dwi, mereka masih terngiang akan celoteh saya di depan kelas mereka saat 5 Januari 2015 itu dan menorehkannya pada laman ajaibnya. Ghia yang tidak sepenuhnya libur ke luar kota, menikmati asyiknya Palangka Raya hingga malam tahun baru yang dihamburkan dengan bombarbir kembang api ke langit atas, untungnya tidak dibalas dengan hujan kembang api melainkan hujan air yang membasahi bumi Isen Mulang Tambun Bungai ini adalah hal yang kontras dibanding dua rekannya tadi. Ditutup dengan ucapan belasungkawa kepada keluarga pada korban AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata 28 Desember 2014 lalu, Ghia menutup resume blog 1000 katanya dengan indah dan elegan.

Bagaimana ceritamu, akankah kamu bagikan?

Teruslah menulis hingga 1000 kata dan biarkan walaupun atau bahkan tidak ada yang membacanya, karena semua itu menjadi bahagian dari latihan menulis dan berharap.

Selamat Tahun Baru 2015 – tahun baru songsong dengan tekad dan harapan baru.

#1000-kata, #blog-1000-kata, #ghia-anindhita, #ritsy-amansa, #siswa-menulis, #siswa-menuliskan-blog, #tulisan-siswa-blog-1000-kata, #widya-dwi-astuti