Diversifikasi Usaha

Teman-teman saya sekarang tidak hanya ibu-ibu yang ramai berjualan menggunakan waktu luang selama jeda pelajaran pagi hingga siang dengan menawarkan barang-barang rumah tangga. Ada yang berjualan kosmetik hingga barang-barang plastik ternama. Mulai dari tupper, tulip, hingga moorlife. Semuanya meriah dan menyemarakkan kantor guru yang sepi dan kosong melompong.

Salah satunya Pak Erwan, guru Bahasa Inggris yang handal juga aktif menggunakan quipperschool sebagai alat bantu mengajar dan menilai pekerjaan siswa kelas 12 di sekolahku. Kali ini dengan alasan membantu istri, Beliau memasarkan peralatan rumah tangga dari bahan plastik ternama hingga akhirnya saya kepincut membeli set alat makan siang dengan tas yang sewarna FDR (aka blackbox) yang sedang ramai diperbincangkan.

Semangat kewirausahaan Beliau ini muncul karena sering berceloteh di pos Satpam dekat pintu gerbang, mulai dari pelatihan negosiasi dan melakukan transaksi bisnis. Hal ini rupanya membangkitkan semangat kewirausahaan yang menjadi salah satu pelajaran umum di Kurikulum 2013 tingkat SMA. Guru-guru yang terbiasa berbicara elegan di ruang kelas menjadi fasih dan piawai mempromosikan barang jualan, tidak lepas karena pelatihan yang diberikan oleh Guru Sosiologi merangkap juru pasang mesin pendingin, H. Kaprawi yang tahun lalu sukses menggondol gelar magister di Universitas Seberang Pulau.

Bang Haji, sebutan akrab guru sosiologi bertubuh bongsor dan maju bagian perutnya, adalah penggembira yang lihay termasuk negosiator ulung dan pebisnis handal selain kemapanan dan tingkat sosialnya yang tinggi. Hampir setiap hari kami ditraktirnya makanan ringan hingga makanan berat, mulai dari sekedar kerupuk amplang hingga nasi rawon kaya rasa buatan acil seberang, Bang Haji memberikan pelatihan melalui obrolan singkat dan padat, jauh berbeda dengan ceramah akademik dan wejangan kritis kepada peserta didik dalam kelas, kepada kami para guru muda yang tengah mencari peluang usaha.

Jika Kawan Erwan, berdagang kosmetik merek ternama dan selalu dikejar ibu-ibu berbagai kalangan terutama para pemesan pelembab wajah untuk malam hari selain menawarkan utensil dan rekan-rekan kepada sesama pegawai SMADA, Bang Haji sering menerima order ke luar wilayah hingga mendedikasikan diri sebagai teknisi di setiap lini mesin penyejuk terkini. Ada pula Pak Faturrohman yang sepintas mirip dengan Iwan Fals tanpa kumis dan klimis serta lebih necis, ketimbang bertampang guru, Beliau lebih cocok menjadi sales tiket pesawat atau kereta api karena semua yang diketahuinya adalah jalur-jalur transportasi dan jual beli kendaraan bermotor. Kini Pak Fatur mengembangkan sayap peluang usaha dengan memelihara ikan lele dan nila yang sekilonya dijual seharga Rp 25 ribu.

Sudah dua kali hasil panen ikannya dicobakan kepada kami dalam makan siang sebelum dan sesudah ulangan umum, mulai dari goreng kering krispy tanpa tepung hingga kuah pedas berbual-bual cabe walau mahal. Pengembangan usaha adalah efek dari meningkatnya kebutuhan masyarakat apalagi warga SMADA yang semakin meningkat penghasilannya, jadi tidak salah guru-guru pria pun berkarya dan memperdalam ilmu wirausaha sambil menancapkan dalam-dalam bisnis-bisnis sederhana yang di masa depan menjadi sumber penghasilan tambahan selain melulu menerima gaji dan tunjangan-tunjangan.

Walau demikian bisnis adalah bisnis, tugas utama tetap dijalankan tidak kendur.

Selamat berusaha !

#alat-alat-rumah-tangga, #menggunakan-waktu-luang, #mlm, #plastik, #wirausaha