Guru Lampau, Guru Sekarang

Diambil dari salah satu status rekan di Forum Guru Republik Indonesia bisa berupa kritik terbuka atau refleksi yang tidak semua guru mengalaminya, simak baek-baek :

Guruku kini tak seperti mentari,
dulu kau ajari kami “INI IBU BUDI”
kini engkau sibuk urusi sertifikasi,
Guruku kini kau hilang arah dulu
kau ajar kami untuk hidup saling menyayangi,
kini engkau malah tawuran “Honor VS Pegawai Negeri”,
Guruku dimana kau kini,
dulu kau ajari kami untuk bisa menjaga diri
tapi kini engkau malah sibuk “Selfie”,
Guruku kini entah di mana, dulu engkau ajari kami tentang kebenaran,
kini kau sibuk mencari pembenaran,
Guruku tak setangguh dulu yang kuat tak tertandingi,
tak peduli jarak dan medan yg menjulang tinggi, karena alasan manusiawi, dan ekonomi
kini guruku mengeluh menyayat hati, padahal Hand phone’ nya Blackberry, Sepatunya Berlutti, tasnya brand luar negeri, bajunya mengkilap wangi,
Entah kapan Guruku kembali,
mungkinkah harapanku pasti atau hanya mimpi”(rekan Hendrike Bayal)

Dibahas oleh Pak Juliet Romeo dengan :

Status ini diatas justru membuat sakit hati semua guru guru di Indonesia…..
kayak ndak rela kalau pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru gurunya,…
mungkin kamu akan lebih senang memandang dan sekaligus mentertawai
guru-guru kamu yang memgang HP butut untuk komunikasi di era internet sekarang ini,
tugas-tugas guru sarat akan administrasi yang harus dpenuhi sambil mengajar…….
anak-anaknya yang juga manusia seperti kamu, di rumah menunggu untuk makan….
apakah tunjangan sertifikasi yang diterima oleh guru guru sekarang ini adalah sesuatu yang dipaksakan dan merugikan dinas lain dan membuat orang lain atau anak anak orang lain menjadi sakit?
kalau kehidupan pejabat pejabat elit sangat mewah yang pernah diajar oleh guru-guru kamu,
maka sudah sewajarnya guru sekarang ini harus dan wajib hidup mewah, harus punya mobil besar, lengkap dengan laptop, hand phone yang bagus
tidak hanya menenteng tas kulit terkelupas dan mengayuh sepeda kumbang butut…..
Makanya jangan menghakimi semua guru-guru kamu dengan hanya melihat “guru-guru setengah jadi, atau guru jadi jadian yang baru kemaren dipaksakan lahir gara-gara irihati dengan sertifikasi” di lingkungan kampung Anda

Hanie Eva membalas kemudian :

Anakku
kami masih seperti dulu
tetap jadi pelita dan penyejuk kalbu
meski dunia berlalu

Anakku,
jika kau lihat sahabatku ada yang keliru
itu segelintir di antara beribu-ribu
janganlah gundah jiwamu
kami masih seperti dulu

Anakku,
iklas kami masih utuh
janganlah hatimu bimbang ragu

jika sertifikasi menurutmu mengubahku
mintalah peraturan dibenahi menteri mu
agar tidak menyibukkan ku
soal aturan bagini dan begitu
agar waktuku terus penuh untukmu
dan selalu seperti dulu

Gatut Edi Susanto memberi pernyataan yang menyejukkan :

Perlu nanda tahu Guru juga memerlukan semuanya itu termasuk sertifikasi karena Guru punya keluarga yg perlu jg perlu biaya. Masak guru yg notabennya pendidik hanya mampu menyekolahkan anaknya sampai sma sj krena dak ada biaya, tu dak mungkin nak. Dan tu dak cocok dengan mutu guru ING NGARSO SUNG TULODHO ING MADYO MBANGUN KARSO TUTWURI HANDAYANI. Jadi Guru juga sebagai tauladan, penyemangat dan juga pendorong/pendukung

Serunya Kopral Jono menuliskan :

Muridku, saya disini, masih seperti dulu, mengajar, mendidik, dan tentu selalu mengarahkan kepada kebaikan yang seperti dulu. apa kamu iri pak guru dapat sertifikasi, apa kamu iri pak guru jadi pegawai negeri, atau kamu iri kalau pak guru bisa selfie? atau kamu ingin pak guru yang selalu makan dengan sambal terasi dan ikan teri, atau kamu ingin pak guru menjadi guru yang nggak ngerti teknologi. Maafkan kami kalau kamu tetep iri, tapi kami ingin membangun negeri sejalan dengan perkembangan terkini.

Pak Lodewik Binsar menambahkan dengan puitis ekstrim paradoksal :

Anakku yang baik dulu kamu sangat lugu sehingga aku gurumu terharu melihat kamu,
tapi kini kamu seperti hantu bahkan rokok menjadi candumu,
anakku dulu kamu penurut sekarang kerjamu hanya menggerutu,
anakku dulu kamu mandiri, sekarang sepertinya dikasih pisang kamu ga’ mau makan
dan minta disuapin gurumu,
anakku dulu kamu jujur sekarang kamu pembohong.
anakku dulu gurumu bisa jewer telingamu,
sekarang gurumu kau penjarakan karena jewer telingamu,
|anakku gurumu dulu sekolah biya sendiri tapi penuh prestasi,
|sekarang kamu sekolah gratis tapi sepertinya mengais abjad a-z,
anakku dulu ortumu nyerahkan kamu sepenuhnya kepada gurumu,
sekarang kamu menghindari itu

Kenyataan sekarang yang dituntut kepada kami sekalian menurut ibu Yuli Ana adalah :

Ngajar jaman skrg serba salah, guru mengajar penuh sopan santun
siswa tambah parah, tapi nilai harus mewah,
harus lulus sempurna biar keliatan gagah

Refleksi, semua orang yang membaca sedih, kecewa, jengkel, kesal, marah, memaki-maki, apalagi yang berhubungan dengan sertifikasi dan kesejahteraan – tambahan 36 juta setahun dirasa sudah bermewah-mewah apa arti perubahan 36 juta (atau 48 juta untuk yang sudah bekerja 30 tahunan) dari setahun berdasarkan tunjangan sertifikasi, sekolah lagi S2, S3 saja pake biaya sendiri ditambah berhutang ke Bank menyanderakan SK Pengangkatan CPNS dan PNS sekalian dengan Kartu Taspen.
Semangat kesal menjadi lecutan dan cambuk pacu untuk lebih gigih bekerja dan gigih juga menuntut sambil menunjukkan kinerja, ingat Sasaran Kinerja Pegawai awal tahun dan dipertanggungjawabkan akhir tahun. Manual dan lewat aplikasi padamu negeri. Jangan Lupa itu !saya

#award, #forum-guru-republik-indonesia, #puisi-guru, #puisi-mbeling, #status-facebook