Cerita Sekolah

http://www.theeducationtrends.com/gallery/best-elementary-schools/best-elementary-schools.jpg

Cerita tentang sekolah tidak pernah ada habis-habisnya. Sekolah sebuah dunia tersendiri yang jika diselami makin dalam semakin banyak yang tidak akan pernah sanggup diceritakan hingga tuntas. Sekolah dulunya adalah tempat untuk memanfaatkan waktu luang berawal dari kata “skolae”. Namun sekarang mulai dari hampir 0 tahun – 25 tahun waktu manusia dihabiskan di sekolah. Ada juga yang terus melanjutkan hingga usia tua di sekolah. Entah itu PAUD, Sekolah Dasar, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

Artinya sebagian hidup manusia modern dihabiskan di lembaga yang bernama sekolah. Ada sekolah formal dan sekolah informal, ada yang di gedung-gedung mentereng hingga tempat yang dinamakan berdinding gedek.

Keseharian para individu yang terlibat di dalam sekolah dan yang menjadi pelaku utama hingga peran pembantu dan sekedar cameo hadir dalam panggung tersebut. Hal-hal dari yang rutin hingga membosankan, masalah-masalah biasa hingga masalah rumit pun muncul hadir dalam keseharian tonil ini. Musim-musim bersekolah dengan berbagai program acara yang terjadi dalam periode akademik menjadi kegiatan sehari-hari yang kadang mengasyikkan sampai membosankan. Tetapi para penonton dan pelaku tidak ada yang bisa keluar dari kegundahan itu, kegundahan yang hanya bisa dicurhatkan atau ditulisi serta digambarkan dalam presentasi dengan perubahan yang memakan jangka waktu panjang dan lama.

http://fultonhistory.com/my%20photo%20albums/fulton%20high%20school%20yearbooks/Fulton%20High%20School%20Year%20Book%201985/images/

Hasil-hasil persekolahan yang menjadi tolok ukur dan colok mata yang diakui sebagai indikator keberhasilan. Sekelumit proses harian yang cenderung njlimet sampai menguras air mata dan emosi pelaku berakhir sebagai memori dan kenangan nostalgi semata, ada yang terekam dalam kenangan urat-urat saraf hingga buku tahunan atau video catatan akhir sekolahan.

Siswa atau para peserta didik ini yang berada di panggung utama karena setiap tahun mereka akan berganti dan berpindah dari sekolah yang satu menuju sekolah yang lain. Guru dan staf pendidik dan tenaga kependidikan lainnya berperan pada porsi pendukung dan pelaksana acara serta pengisi panggung. Di sisi lain yang tidak kalah menarik adalah keberadaan Sang Kepala Sekolah, guru-guru dengan berbagai ragam perilaku dan keunikan hingga tenaga-tenaga kependidikan yang menjalankan roda organisasi persekolahan pun sebagai aktor-aktris utama yang tidak bisa ditinggalkan hingga dilupakan. Bertahun-tahun mereka ada yang sukarela dan setengah-setengah nafas mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk bekerja dan bertahan di suatu sekolah. Atau karena kepentingan pribadi, alasan keluarga hingga mendapat perintah penugasan harus melakukan tour of duty ke sekolah di wilayah lain.

Sungguh pun demikian, sekolah adalah lahan basah untuk menggali cerita keseharian dan perilaku-perilaku otonom yang mengasyikkan dan selalu mudah dikenang oleh berbagai kalangan. Kenangan masa silam yang tersulam pada masa lalu menjadi pahatan hingga guratan penuh makna yang menggariskan kehidupan masa mendatang dan yang sedang kita jalani (bagi kita yang masih mengingat pernah bersekolah).

Tidak sedikit pula anak-anak atau rekan-rekan yang tidak bisa merasakan dunia sekolah ini karena berbagai sebab dan ketiadaan daya dukung atau mungkin karena kesempatan dan wilayah yang sangat berkekurangan sehingga sekolah adalah dunia yang mahal dan berbiaya tinggi. Masalah utama persekolahan menjadi momok yang menakutkan demi perkembangan dan kemajuan bangsa ini. Negara menjadi kuat, warga negara menjadi tangguh dan bangsa menjadi digdaya karena ada pendukung utama pendidikan melalui sekolah, selain melalui keluarga dan masyarakat. Apakah bisa diartikan negara adalah sekolah yang lebih besar? Kita tunggu cerita selanjutnya pada dunia yang lebih kecil.

#ceksekolahku, #cerita, #paud, #sd, #sekolah, #sekolahku