Kuputuskan Kepalanya

Pukul 9.30 kuikuti arah menuju sekolah dasar di samping SMP ternama di kotaku untuk menjemput salah satu (bukan salah dua) anak tercinta. Sedari pagi ia telah berpesan untuk ditunggu setelah saya selesai mengajar. Ternyata yang ditunggu belum-belum juga keluar dari komplekan sekolah, sementara di barisan depan tampak kaum ibu marjinal yang mungkin sudah diminta putra-putrinya menjemput telah duduk manis berderet di pinggiran jalan. Tampak pula bapak-bapak gendut dan beruban mondar-mandir di sepanjang trotoar depan sekolah, mungkin menanti tugas mulia mereka selaku orang tua.

Saya masih duduk termanggu dalam kereta di seberang jalan. Berada dalam kabin kendaraan yang kadang panas, kadang dingin, kadang mesin menyala kadang dibiarkan mati kedinginan. Lama lama lama aku bosan, dengan langkah gontai sambil menyandingkan Lenovo A319 untuk menyanyikan lagu kesukaan, saya berjalan ke bawah pohon angsana yang tumbuhnya paling sederhana. Saya terduduk di atas deretan bambu tempat biasa penjual gelap durian menggelar dagangannya telah teronggok dan didiami segerombolan semut merah yang dalam bahasa daerah “Sesu”.

Beberapa sesu pun mondar-mandir di antara jalinan bambu tempat gelaran dagangan kala malam itu. Saya menggelar suara stereo nan dolby dari Lenovo, meminta kepada Dewi Guna menyanyikan suara merdunya ditelingaku yang telah dipasang headset. Kadang duduk, kadang jongkok, kadang kuterawang SDN seberang itu, sambil memperhatikan gadis-gadis kecil berbaju hijau lalulalang memainkan tepokan bulu ditangkis hingga bermain ceria sambil menantikan bel panjang yang suaranya sangar agak rock beredar nyaring.

Sambil menunggu saya merasakan ada denyut-denyut halus di permukaan kulit, kadang di tangan kiri dan kanan, kadang pula ada sesuatu yang merayap di betis hingga betis dalam getaran yang sangat halus tapi tetap tidak menyengat atau menyakitkan. Kupandang seekor spiderman atau spiderwati tengah bergelayut manja sambil bermain panjat tebing dengan siku dan melontarkan benang-benang halus dari bawah perutnya untuk berayun dan saat kupelototi dia malu dan segera menjauh kemudian tersembunyi berkamuflase di antara rerumputan hijau yang barusan dipotong oleh Paman penjaga kebersihan kota berusaha berbaur dengan lingkungannya menghindari kejaran pandanganku, tetap saja seragamnya yang coklat abu-abu tidak bisa menyamarkan dirinya yang bongsor di antara tanah. Laba-laba itu kabur dan tidak meninggalkan gigitan, padahal aku berharap jika tergigit laba-laba tadi aku bisa berubah menjadi superhero:mrgreen:

Tidak beberapa lama sebuah bel seperti di bandar udara berbunyi dan menyatakan Saatnya untuk siswa pulang, saya pun bergegas menuju mobil. Anak saya segera menyeberang dan kami pulang bersama – saya penasaran menanyakan koq hari ini agak lama dikeluarkan.

Alasannya karena dimarahi guru kelas karena kelasnya lebih ribut dari biasa. Maklumlah hari jumat hari cepat pulang karena cepat lelah sebab anak-anak SD lebih suka bermain sebagai alasan pengembangan diri. Tumbuh itu ke samping bukan ke atas.😀

Saya teringat dengan kegiatan pelatihan sepulang sekolah untuk cabang Astronomi dan hanya memarkirkan kendaraan untuk menerjunkan tamu yang memberi saya order dan kemudian segera balik ke kelas Astronomi. Di pertengahan jalan saya singgah di kios bubur ayam langganan untuk menyantap hidangan penahan lapar. Semangkok bubur putih dengan taburan ayam dan kriuk serta kremes, irisan daun bawang, plus taburan bawang goreng ditambah sedikit saus pedas menambah keharmonisan warna makanan yang kemudian tidak sampai sepuluh menit tandas dengan sedikit sisa kuah soto di dalamnya:mrgreen:

Urusan selesai dan uang tunai 12 ribu persis seharga sebatang cokelat Silver Queen yang kadang saya hadiahkan kepada siswa-siswa saya jika berhasil mengikuti kontes dadakan yang saya adakan di media sosial sebagai penutup hidangan poridge siang ini. Tak berapa lama kurasakan denyutan halus berada di daerah perut diiringi dengan rasa nyeri yang mengagetkan, sebuah gerak reflek tangan kanan meraba perut kiri bawah dan mendapatkan sebentuk serangga berbasis protein dengan dua bagian gelembung tengah berusaha keras membenamkan gigi tajamnya dalam ukuran renik ke kulit perut dan pertemuan jari telunjuk serta jempol tangan saya menghentikan perjuangan serangga itu yang berakhir mengenaskan dengan kepala terlepas dari badannya.

Oh Malang benar nasibmu Sesu, setelah dirimu menggayar tidak karuan akhirnya engkau sampai pada garis akhir sebagai mahluk hidup. Terpaksa kuputuskan kepalamu . . . .

#kesemutan, #semut-api, #semut-merah, #semut-rangrang, #sesu, #sesuk