Kembali Libur Karena Asap

2102015Hari ini 2 Oktober 2015 masih menjadi keadaan yang kurang nyaman dengan udara pekat oleh asap (smog = smoke fog) akibat kebakaran semak, lahan, dan hutan di Kalimantan Tengah yang kami duga sebagai asap kiriman dari wilayah sebelah selatan Palangka Raya.
Pemadaman gencar tetap dilakukan tetapi selalu terkendala dengan selalu muncul titik api baru.
Hari ini saja BMKG telah merilis pemberitaan mengenai Indeks Standar Pencemaran Udara yang mencapai angka di atas 1000 pada pukul 10.00 WIB hingga mendekati 2000 di petang hari, semakin senja semakin meningkat tingkat patrikulat berat dalam kadar udara yang kami hirup.
Untuk angka 600 – 800 batas ISPU kami sudah terbiasa, namun di atas 1000 yang warna asapnya kuning pekat seperti udara malam terpapar lampu natrium itu yang tidak sanggup kami hirup.
Alasan kuat itu yang menjadikan besok sekolah-sekolah di Palangka Raya kembali menjalani masa libur hingga tanggal 6 Oktober 2015 dan diharapkan para siswa kembali ke sekolah seperti biasa tanggal 7 Oktober 2015.
Anak-anak siswa kami telah banyak diberikan tugas dan tugas, tambahan belajar, materi belajar dan lain-lain tetapi masih dianggap kurang sesuai sebab sulit tidak bertatap muka dengan guru-guru yang mengajar.
Ditakutkan sebagian besar orang tua, bahwa anak-anak mereka ketinggalan materi pelajaran dibandingkan di pulau seberang. Sebenarnya tinggal kepada orang tua untuk memanfaatkan teknologi informasi (karena sebagian besar orang tua sekarang tidak lagi gagap teknologi) untuk mengikuti pembelajaran gratis di Khan Academy, atau kursus-kursus gratis lewat youtube ketimbang gonta-ganti status semata di Facebook dan berceloteh ria di media sosial.

Seperti Quipper School juga menargetkan orang tua untuk mengawasi hasil anak-anaknya belajar dan mengerjakan tugas-tugas di sana.
Sekarang tinggal kepada orang-orang tua yang sebagian besar terbiasa dengan piranti telekomunikasi canggih dan jauh lebih mahal harga maupun fungsinya ketimbang piranti yang dimiliki guru-guru di sekolah untuk mengoptimalkan piranti tersebut demi kemajuan putra-putrinya.

Janganlah lagi pola lama, pola tradisional walaupun sebagian itu masih berarti jauh lebih sesuai untuk sekolah-sekolah marjinal atau jenjang pendidikan tingkat dasar yakni guru bertatap muka saat mengajar – tetapi sudah saatnya para siswa ini lebih diawasi orang tuanya untuk belajar.

Berikan waktu yang cukup bagi mereka, mengawasi mereka sebagai generasi penerus bangsa untuk membantu mereka mengerjakan tugas-tugas sekolahnya atau minimal menemani mereka mengerjakan tugas-tugasnya seperti biasa.

Peran orang tua menjadi lebih bermakna sebagai teman dan sahabat anak-anak di rumah.

Salam melawan asap ! Berteman dengan Asap !