Ngeblog lagi (1) – Sakit Perdana

Jumat ini kembali aku berkriprah mengisi renjana menuliskan kisah, kenapa? Setelah sekian lama berkutat bergonta-ganti 460 karakter di dinding elektronik milik tetangga saya Marc, dan terjengkang selama dua minggu didera menjadi budak batuk pernafasan akibat peradangan paru-paru. Yang nyaris merenggut nyawa saya di awal tahun 2016 ini, sekiranya karena Kasih Karunia Tuhan serta perhatian ekstra pedas dan keras dari kekasih hati saya, Defina beserta kru-kru cilik dan pengikut setia di rumah Menteng, Tentu saya tidak akan berani dan bisa melentikkan jari-jemari kembali berdansa waltz dan salsa di atas kibor laptop pinjaman dari sekolahan yang sudah tiga kali mengalami bedah otak.

Teman-teman dan kerabat bergantung kepentingan, termasuk seluruh rekan muda yang aku ajar sebagai penerus masa kini (dan tenggelam dalam kekinian) adalah filofosis yang tepat untuk menggambarkan atmosfer hatiku selama dalam perenungan di paruh kedua Januari 2016, saat aku tergeletak tak berdaya di pembaringan sambil panas dingin merem melek dan batuk berkepanjangan seperti suara anjing tua yang kepayahan, kadang lemah mengaing kadang deras menerjang hingga gumpalan-gumpalan fluida di paru-paru menjadi penuh dan inflamasi. Benar setelah awal pekan ke-3, awal ulangan umum semester ganjil di sekolahku, aku tepar tak berdaya sepulang melawat jenazah paman di kawasan Thamrin Komplek Panahan dan harus memasukkan diri dengan sukarela ke UGD untuk beberapa saat diantar istri terkasih dan ajudan setia yang semuanya perempuan! (Saya tidak menyukai percintaan sejenis … sorry! )

Hampir tak bisa bernafas dengan lega dengan tumpuan berat menghela udara di dada sebelah kanan, dengan sabar kami menanti bantuan medis dikoordinasi dr. Tagor Sibarani yang simpatik dan sabar di IGD RSUD dr. Dorys Sylvanus, difoto dengan sinar roentgen dan aku benar-benar merasakan keajaiban sains tumbukan elektron pada logam tungsten yang ada di instalasi rekam medik rumah sakit umum daerah ini untuk mengetahui gerangan patrikulat serta kejadian tak kasat mata yang mengganggu paru-paru sebagai alat bernafas dan mungkin aku gagal bernafas jika menggunakan kulit sebab badanku kotor dan berbau apek sebab bermandikan peluh akibat kerusakan generator mitokhondria saat berdifusi osmosis dengan jantung pada siklus respirasi dan peredaran darah.

Sebenarnya hampir setiap tahun aku harus masuk ke RSU dengan berbagai alasan, ada alasan kelelahan, alergi roti, alasan kecapean, alasan gatal, alasan sakit perut, alasan gagal nafas sepanjang 2009 hingga tahun ini, dan mudah-mudahan bukan karena gagal move on apalagi gagal hidup! tapi 2016 ini merupakan titik balik dari sensibilitas dan ketangguhan fisika yang kuagung-agungkan selama ini bahwa hanya sakit gatal dan lemas yang mampu menyeret aku ke brankar RSU. Bahwa udara pun sanggup membuatku tak berdaya dengan mengirimkan beban pada generatornya di dadaku!

Semula kupersalahkan keikutsertaan aku mengunjungi daerah-daerah tinggi di pulau Jawa di awal tahun ini sebagai kontributor utama penyebab kemunduran fisik dan gangguan paru-paru, tapi lama-lama aku pikir, ini adalah akumulasi kerja dari november hingga desember ditambah dentuman asap-asap berkabut racun yang aku remeh-temehkan tanpa masker yang memadai diyakini juga membentuk buntalan-buntalan akut sebagai bom waktu di alveoli paru-paru dan terjadi dua minggu lalu.

Diawali dengan tidak konsentrasi dan demam panas, yang mengakibatkan aku tidak berkonsentrasi saat memacu kendaraan matic yang semenjak pelajaran Dinamika gerak Rotasi tahun 2009 kuremehkan dan kuingatkan agar jangan dipacu sebab torsi roda dan inersia yang dihasilkan roda berdiameter kecil itu menyebabkan ketidakseimbangan lateral dalam gerak menikung sentripetal dan banyak membuat pengendara terjatuh dan terpeleset karena gigitannya sisi roda yang tidak berupa diagram alur untuk mengikat tanah akhirnya aku alami dengan nahas. Saat momentum antara motor dengan jalanan terjadi siku tangan dan dengkul tidak mengalami robek atau luka melainkan tekanan luar yang cukup kuat mendesak pectoral atas sebelah kanan terasa berat dan robek dalam. Tidak ada luka atau memar, juga patah apalagi terkilir, namun beban nafas menjadi berat dan malam itu sebenarnya aku mulai merasa demam tapi sedikit.

Malam-malam berikutnya kurasa batuk mulai menyerang dan suhu tubuh naik seiring aktivitas paru-paru mencari jalan keluar melalui batang tenggorokan semakin tidak nyaman dan akhirnya kami berobat ke dokter di apotek beberapa ratus meter dari rumah di depan SPBU G Obos, harapan positif paling ini adalah batuk biasa, bukan flu berat yang sampai melemahkan tulang dan membuat demam atau alergi dan sempat diduga aku mengalami gejala DBD atau malaria yang tengah endemik. Saat menunggu obat yang diresep oleh dokter perempuan yang namanya mirip artis remaja tahun 80an dan menyanyikan lagu Bukit Berbunga yang juga melampiri saya dengan surat izin tidak ke kantor selama beberapa hari padahal maunya saya hari izin satu hari (hah!), alumni SMADA 2008 Evan Gunawan ternyata apoteker di tempat itu yang memfasilitasi obat-obatan yang kuperlukan, antara lain antibiotik, pengencer dahak, penurun panas (obat anti demam, dan lain-lain yang ditumbuk menjadi satu dan dibuatkan seperti puyer). Tanpa biaya BPJS sebab bukan dokter keluarga yang biasa kami datangi untuk berkonsultasi atau mendengarkan keluhan istri, sekitar dua lembar warna merah sudah dipastikan disumbangkan kepada BUMN kesehatan ini.

Esoknya selasa, Januari 12 – badanku panas membara, batuk semakin kencang dan dunia tidak nyaman, benar-benar tidak nyaman melanda diri ini. Serba salah, hidup enggan, mati benar-benar ngga mau. Makan mental, batuk bergantian sepanjang hari hingga malam. Obat dengan rajin sesuai takaran dan dosis resep diasup dengan teliti, tidak berkurang juga hingga hari jumat. Mentalku drop, badan lemes, tapi herannya berat badan malah bertahan!

Malam sabtu, Januari 15 – istriku berkesimpulan karena kami tidak sowan ke dokter keluarga yang dinaungi BPJS maka sakitku tidak sembuh-sembuh dan tidak mengalami kemajuan berarti. Maka malam itu setelah didaftar pukul 20.00 WIB urutan ke-9 saya mengikuti saran dan diantarnya ke dokter keluarga di apotik BUMN juga tapi di depan gereja besar di jalan Diponegoro. Sambil menunggu batukku tidak berhenti, sesekali saja diam untuk meredakan mesin. Saat giliran konsultasi tiba, batuk itu tidak juga menampakkan keperkasaannya malah diam dan mantoh! Akhirnya kami pulang dan aku dihadiahkan tiga macam obat, sirup batuk herbal OBH, parasetamol dan satu obat ukuran kecil warna putih yang sempat kukira obat penenang untuk memudahkan tidur agar hidupku nyaman dan empuk kaya daging.

Malamnya bukan kenyamanan yang kuterima, tapi batuk makin menghebat bahkan jeda waktu antara batuk dan diam hanya dua jam, lebih ganas dan frekuensinya lebih banyak dari keadaan sebelumnya. Sampai istriku menyediakan botol air panas untuk mengompres dada dan punggung, yang juga tidak berhenti berkeringat peluh kadang-kadang demam dan dingin tidak karuan. Dada sesak dan berat serta  sempat kepanasan seperti terkena setrika tapi biar kujalani agar aku bisa tidur sebab Sabtu, 16 Januari aku bertekad harus bangkit dan sakit ini sebagai bagian dari penyembuhan saja dan besok akan sembuh.

Sepanjang Sabtu sepulang sekolah karena senin 18 Januari akan UAS, batukku tidak mereda malah semakin mengganas seperti angin topan dan amukan badai. Mulailah awal derita baru tahap kedua sabtu dan minggu tersebut. Tidur tidak nyata, halusinasi, obat-obat yang semula aku ikuti menjadi tidak berguna sama sekali walau terus aku konsumsi (kini serasa nyamuk dan lalat enggan mendekat karena setiap pori-pori tubuhku akan mengalirkan aroma antibiotika bercampur zat kimia yang sanggup mengkhatamkan mereka di dunia fana ini).

Senin, 18 Januari, aku paksakan diri berkantor dan mengawas ulangan di ruang 26 sambil berhalusinasi, batuk berdahak yang berkali-kali mengajak rekan-rekan fluidanya keluar dari dalam perut di tengah aktivitas ujian dan saat aku berseragam. Semua dapat kuatasi dan menghasilkan pusing berkepanjangan, badan meriang dan menurut beberapa rekan wajahku pucat dan tampak seperti mayat. Selesai mengawas aku segera balik pulang dan menyelesaikan kewajiban senin dan tagihan janji mengikuti kebaktian persemayaman paman Adonia Sera yang terpaksa tidak kuikuti dengan pemakamannya sebab aku sudah merasa akan mengikuti jejaknya (saat itu) yang kemudian aku pulang tak berdaya di atas pembaringan.

Siangnya pukul 14.00 lebih  sedikit, kekasihku datang dengan wajah harap-harap cemas melihat kondisi dan aku mengambil keputusan segera ke UGD – dan kutuliskan di awal sakit perdana ini.

Aku lemas, aku tak berdaya, UGD penuh, kamar rawat inap penuh, tapi aku masih sanggup dan siang itu kami pulang berbekal tatamba dari dokter Tagor simpatik, antibiotik cefix, codein, dan obat anti demam untuk menantang nyali mengunjungi dokter spesialis tentang penyakit dalam sebab dokter spesialis paru tidak ada di Palangka Raya. Sempat terpikir esoknya ke Surabaya, tapi istriku menyatakan ketidaksanggupan biaya dan waktu serta tenaga, akhirnya kupasrahkan nasibku pada hasil konsultasi dengan dokter Penyakit Dalam saja.

Sementara aku menunggu di rumah dari pukul 16 hingga malam pukul 20 karena menurut sayangku, namaku berhasil di daftar di Apotek Sari Mulia nomor urut 22 sebab dokter spesialis yang sama di Apotek Medika sudah tidak menerima pasien lagi (saat sorenya ia berkeliling sambil mencari makanan agar aku tetap kuat dengan bisa makan). Sambil menahan batuk dan badan berkeringat, pukul 20.00 kami menyusuri jalanan Palangka Raya menuju apotik yang namanya sama dengan rumah sakit swasta di Banjarmasin ini, kami harus menunggu tiga jam sebelum benar-benar ditangani pak dokter spesialis berjenggot ini, saat giliran konsultasi tiba dan giliran toko kiri dan kanan apotik ini menutup diri karena sudah larut malam, didapati bahwa kedua pasang paru-paruku dipenuhi infeksi bakteri entah bagaimana banjir bakteri itu ada di organ vital itu. Dengan melihat secara saksama dan penuh kehatian-kehatian dengan kewaspadaan dan kesabaran tingkat tinggi, dokter jenggot mendengar dan menganalisis riwayat sakit dan penanggulangan yang telah kuterima serta menambahkan saran terhadap obat yang aku asup agar segera sembuh serta tidak lupa meminta surat izin tidak hadir lagi dan diberikan selama tiga hari kembali. Seusai dan bersalaman dan aku lihat dari kejauhan sayangku mengeluarkan lebih dari lima lembar kertas berharga berwarna merah yang berarti sakitku dan obatku itu berharga di atas setengah juta untuk malam selarut itu di Palangka Raya!

Malam penderitaan kedua mulai kualami sepanjang januari 18 hingga januari 20, dengan puncaknya pada januari 19, hidupku tidak karuan dan badan terasa terbakar dari dalam, tidur tidak nyaman mencari cara beristirahat malah mimpi-mimpi gila yang sama dan bersambung terus berlanjut dan menerawang dalam benak hamba. Aku benar-benar freakin out, menjadi gila, jangankan rumus fisika dan matematika, menghitung bilangan perkalian saja yang sederhana 24 x 15 aku tak mampu! Aku memaksa diri mandi dan akhirnya terjadi muntahan sebanyak enam kali! Habis seluruh obat yang kumakan dan makan pagi yang menjadi kekuatan terbuang dalam air di toilet. Obatnya pedas dan pahit bercampur menjadi satu, mengingat rasanya saja sudah terbit gangguang gastrokolik yang memicu stimulasi muntah simpatetik seperti Mordechai (Jhonny Deep) saat berciuman dengan Lady Mordechai (Gwayneth Partlhrow) saat aku terpaksa tidur duduk di kursi kerjaku agar tidak muntah dan badan tetap tegak agar tetap waras!

Jumat ini, aku membatalkan kedatangan diri karena jatahku hanya sampai jam 9 pagi, dan kutuliskan ini sebagai janji pada diriku sendiri setelah membaca inspirasi dari Jawa Pos mengenai Raditya Dika, komedian terbaik 2016 yang mengawali karirnya dengan menerbitkan buku dari tulisan dalam blognya.

Aku tidak peduli seberapa isi blog ini menggugah atau menggaet pembaca, yang penting aku menulis, kembali menulis, isinya terserah kepada hatiku walau tak kupungkiri profesiku sedikit dan banyak akan mempengaruhi konten dan tindak tanduk tulisan. Aku ingin menulis saja, setelah kemarin mendapat surat dari AdSense Google yang menolak memberikan kesempatan pada blogku yang lain yang hanya dipenuhi gambar dan video serta bukan tulisan panjang dan mengalir seperti ini.

Inilah kekesalanku pada Adsense ini juga kekesalanku pada diriku sendiri, Selamat datang kembali dan selamat ngeblog buat aku yang kesepian. Menanti kesembuhan dan mencari inspirasi bagi diriku sendiri.

Aku peduli

Siapa tahu besok aku mati dan tidak ada yang dikenang lagi tentang diriku selain tulisan hari ini!

#aku-cool, #aku-gila, #aku-peduli, #aku-sehat, #aku-waras, #apa-saja, #batin, #bukan-curcol, #bukan-curhat, #bukan-pelajaran, #catatan-sakit, #catatanku, #cool, #derita, #deritaku, #duniaku, #paru, #paruparuku, #peduli, #peduli-ngeblog, #penyakitku, #sakitku, #spesialis, #tulisan, #tulisanku, #waras-kabeh