Palangka Raya – Bogor

Hingga akhir minggu ke-2 bulan Mei kami berharap akan ada perjalanan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, apalagi kelas XII sudah kelar mengikuti ujian-ujian akhir seperti UN dan US, sementara kelas X dan XI mengikuti evaluasi akhir semester baik yang di SMA maupun SMP, termasuk anak-anak kami pada kedua jenjang tersebut.

Sampai terbetik kabar, bahwa istri saya mesti mendampingi salah seorang siswanya berangkat ke Bogor mengikuti workshop perfileman, kebetulan siswa tersebut tidak pernah sama sekali (mungkin) naik pesawat udara, kesemuanya serba kebetulan dari sekolah saya pun ada siswa yang berangkat mengikuti acara yang sama sesuai kuota daerah namun tidak ada pendamping.

Semula istri saya akan berangkat berdua ibu guru lain dari sekolahnya, namun karena ibu tersebut tiba-tiba mendapatkan kabar harus berangkat ke kota lain untuk mengantarkan suaminya berobat, akhirnya pilihan pendamping tidak lain jatuh kepada saya. Maka dengan berat hati antara pilihan dan dilema saya mesti bermohon izin kepada pimpinan saya untuk berangkat dan akhirnya saya dapatkan.

Perhitungan selanjutnya yang menjadi kendala batin adalah biaya, pemesanan tiket, kendaraan yang harus ditumpangi ke Bogor dari bandara, dan lain-lain. Apalagi jika ini semua dilakukan oleh istri saya yang baru biasa bepergian jika berombongan sehingga diriku harus membimbing dan mendampingi beliau. Setelah melakukan berbagai analisis dan pergulatan hati dengan kalkulasi maupun asumsi serta parameter praduga-praduga lain – termasuk menentukan kepastian membeli tiket pesawat terbang setelah mengetahui pesawat yang digunakan Nisa yaitu Garuda – yang hingga minggu malam kami tak berani membelinya di agen perjalanan karena harga yang lumayan wow dan itu sangat menggerus anggaran perjalanan ….

Akhirnya saya putuskan menggunakan aplikasi Traveloka, sebagaimana direkomendasikan sahabat saya, Pak Erwanto, Guru Bahasa Inggris yang sudah sering melakukan travel dengan bantuan aplikasi tersebut dan kartu debit-nya. Maka saya pun mencoba hal yang sama, kebetulan traveloka memberikan diskon-diskon menarik, termasuk pemesanan hotel dapat dilakukan melalui aplikasi ini.

Pembelian tiket garuda pun dilangsungkan dengan total mencapai 2 juta lebih, ditambah reservasi hotel di Bogor (yang ternyata letak hotel kami tidak jauh dari lokasi Nisa dan Ridho (wakil sma-2)  – termasuk sahabat saya Pa Nyoman Arjana pun berangkat ke Bogor menginap dan berkegiatan di hotel yang sama dengan anak-anak tadi di Bogor). Pemesanan hotel di Bogor lancar dan sudah saya dapatkan e-tiket dan e-Registrasinya melalui sms maupun email.

Hari keberangkatan pun tiba, dengan hati masih waswas dan kurang percaya, kami berangkat ke Bandara Cilik Riwut diantar oleh ipar, saya sempat bertemu dengan orang tua masing-masing siswa yang kami dampingi dan mereka sepertinya merasa aman karena ada guru pendamping menuju Bogor (karena sesungguhnya kami tidak mengetahui strategi penjemputan bagi siswa-siswa ini, terutama yang dari luar kota dan tanpa pendamping sekolah). Langkah kuayunkan tanpa keyakinan setelah melewati pemeriksaan penumpang di bandara yang lumayan membuat dagdigdug (terutama jaket dan ikat pinggang serta jam tangan harus dilepas serta dimasukkan ke dalam tas penumpang) – termasuk kepada istri dan anak-anak ini mereka agak ribet dan kesulitan menghadapi hal itu, karena baru mengetahuinya. (Kebetulan akhir januari kemarin, kami pernah mengikuti perjalanan dari Surabaya sehingga agak tahu sedikit “ritual” awal memasuki tempat pendaftaran penumpang – karena saya dimarahi sekuriti Avsec waktu itu sebab menggunakan jaket tebal dan ikat pinggang karena celanan kedodoran dan harus melepas segera sementara antrian pemeriksaan di belakang saya puanjang dan lama .. itulah coki-coki hehehe)

Pengalaman yang sangat berkesan di Bandara Juanda itu yang seterusnya saya terapkan, masuk ruang check-in tidak menggunakan jaket serta celana yang harus pas di pinggang agar tidak melorot sebab tidak perlu sampai membuka pending di depan petugas Avsec (bedanya petugas Avsec Bandara Soekarno Hatta adalah cewek-cewek cantik dan manis, kan jadi malu ane kalo sampai keliatan perut yang one pack ini😀 … )

Registrasi penumpang di Bandara Cilik Riwut berjalan lancar, karena pemesanan saya melalui Traveloka saya cukup memperlihatkan kode booking pada hape disertai tanda pengenal penumpang, demikian pula dengan siswa-siswa kami sambil menyertakan kartu pelajarnya dan menyerahkan eTiket berupa kertas cetakan dari rumah masing-masing, karena tidak ada di hape mereka. Semuanya berjalan lancar dan tertib dan kebetulan kami tidak menunggu sampai lama, karena saat memasuki ruang tunggu penumpang eh Garuda sudah nongol di taxi way – yang agak kerepotan adalah Ridho karena berjaket, berikat pinggang, hape di tangan disampir dengan earphone, kacamata hitam tak lupa ia pegang karena akan dipakai saat berjalan menuju pesawat.

Kalo di Palangka Raya tidak ada garbarata atau bis penumpang, jadi kami harus berjalan menuju pesawat parkir lebih kurang 900 meteran lah jadi sempat foto-foto begitu di apron beda banget kalo di Bandara lain😛 … maklum kan jarang lihat dan naik pesawat oh ya

tanggal 31 Mei 2016 ini nih, di Palangka Raya akan ada Air Show jadi bakal seru tuh, rugi buat kamu yang ngga nontoh dan datang ke ibukota Kalimantan Tengah ini sekitar 2 hari lagi. Nanti akan ada fly pass, fly over, terjun payung, pameran pesawat tempur, wah seru pokoknya berkaitan dengan HUT Kalimantan Tengah dan HUT TNI Angkatan Udara ..

ah itu kabar lain yang kebetulan lewat …

Sesampai di pesawat Garuda, semua penumpang yang masuk wangi-wangi dan harum-harum, wajah-wajah yang sering menghiasi televisi lokal ada di hadapan kami, kebetulan keesokan harinya sebagian dari para pesohor ini harus menghadiri pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah yang baru yakni Bapak H. Sugianto Sabran – Habib Said, sayang saya harus berangkat ke Bogor jadi tidak bisa ikut acara tersebut, selain itu memang karena tidak diundang oleh Setneg😛 … namun kami sangat puas bisa melihat dari dekat wajah-wajah tokoh-tokoh ini di ruang tunggu Bandara Cilik Riwut cieee

Penerbangan Garuda berlangsung cukup tepat waktu, walau terlambat 8 menit dari jadwal semula, tapi pilot Garuda memang jago karena tidak sampai 5 menit setelah tinggal landas GA 551 langsung ada di atas awan kota cantik, kota yang di tengah kehijauan belantara Kalimantan itu pun langsung hilang di bawah awan, pesawat garuda langsung digeber dengan kecepatan di atas 800 km/jam, kog bisa tahu? iya, karena hanya di Garuda lah, penumpang bisa mengetahui segalanya karena ada flight entertainment, kebetulan kami satu pesawat dengan Pj Gubernur Kalteng, Bapak Hadi Prabowo yang sudah mengakhiri masa tugasnya sebelum pelatikan Pak Sugianto sebagai Gubernur Kalteng yang Baru.

Benar dugaan saya, kalo naik Garud itu cepat karena 1 jam 22 menit kami sudah berada di sekitar langit Tangerang, Teluk Naga sudah tampak di bawah pesawat beserta kapal-kapal nelayan dan hamparan pasir-pasir luas yang menjadi proyek reklamasi, Mega Proyek agar membuat Jakarta dan bagian utaranya tidak tergerus erosi laut Jawa, luas sekali mahakarya hamparan pulau buatan itu, saya yakin jika proyek selesai bakalan kalah deh Singapura dan negara lainnya! Sebab bentuk pantainya nanti seperti gambar Garuda juga!

Tepat pukul 10.00 kami sudah tiba di ruang bagasi Bandara Soeta dengan aman dan sentosa, tinggal menunggu jemputan Nisa maupun Ridho dari Bogor. Ternyata saat mendarat  Ridho sudah di-sms oleh Ella (nama penjemput, sepertinya bukan nama sebenarnya) – yang sedang menunggu di KFC. Bayangan saya adalah seorang cewe manis berkerudung. Yang kemudian pukul 10.30 – baru kami temui semua bayangan saya tadi keliru. Karena Ella ini adalah cewe energik, berambut sebahu, bermata sipit bertahi lalat di dagu seperti Rano Karno, baju garis-garis putih hitam, celana kargo lebar masa kini, bersepatu kets putih, kulit kuning sawo ngga terlalu mateng yang sepertinya peranakan Tionghoa – menyambut mereka dengan ceria. Karena mereka juga menunggu 5 orang lagi dari daerah lain, termasuk salah satu siswa dari NTT tepatnya Kupang yang tersesat di Bandara karena pesawatnya sudah sejam lebih mendarat tapi tidak nongol-nongol juga di KFC depan pintu gerbang terminal 2, maka saya beserta istri sudah bersiap-siap menitipkan Nisa dan Ridho kepada Ella. Karena pihak panitia workshop akan mengantarkan Nisa, Ridho dan siswa lainnya langsung ke Bandara Soeta, setelah acara pelatihan di Salak Tower selesai pada 31 Mei 2016 nanti. Mudah-mudahan seperti itu janjinya ditepati.

Karena merasa segala sesuatunya sudah siap, si ibu sigap melakukan negosiasi dengan Ella dan terlihat  sip lancar, maka kami pun bersepakat mohon diri, untuk melanjutkan perjalanan ke Bogor. Alternatif transportasi ke Bogor, semula hendak menaiki mobil sewa yang tentu saja biayanya akan berkisar antara 350 rebu sampe 450 rebu, tergantung jenis mobil. Kali ini saya mengajak naik Bis Damri saja karena tiketnya hanya 55 rebu langsung sampe Bogor, tepatnya di Botani Square, itu yang berseberangan dengan Mal Botani di Bogor ! Jadi kalian pasti nggak tersesat kalo ikut Damri jurusan Bogor dari Bandara. Kami semula akan menunggu di tempat tulisan Shuttle Bus, ternyata tempat itu khusus untuk awak pesawat Garuda, termasuk tempat bongkar muat tas bagasi para kru jadi tengsin dan malu sempat tersirat di wajahku.

Setelah lamat-lamat kubaca tulisan Shelter Bus (mengapa tidak ditulis – Penampungan Bus saja ya?) .. akhirnya nun di sana, sekitar 2 kilometer dari tempat kami berdiri menunggu Ella tadi adalah kerumunan penumpang yang juga menunggu Bus Damri dari semua jurusan di Jakarta, ada Grogol, Senen, Kampung Rambutan, macam-macamlah, kami berjalan ke sana dengan riang dan tekad pasti, membeli tiket bus di konter yang dijaga cewe berkerudung manis berkulit kuning langsat, langsung ada petugas pool yang memanggil Bogor maka naiklah kami ke Bus yang sudah menunggu. Bus Mercedez pun membawa kami ke tempat tujuan dalam waktu sekitar 2 jam dari pukul 11 lewat.