Guru Pandu

20131126-174153 Selepas kesarjanaan pendidikan diperoleh Pandu, Ia menunggu untuk beberapa waktu sebelum ditempatkan di sekolahnya sekarang. Sementara itu, pak Pandu masih mengajar tidak tetap di SMA tetangga, yang akhir-akhir tahun 90an sering terlibat berbalas batu secara tak sengaja. Sebagai anggota perguruan tersebut, adalah hal yang sulit dipungkiri jika loyalitas muncul karena pemenuhan kesejahteraan bagi anggota organisasi walau dengan nominal yang masih di bawah Upah Minimum Regional. Sekalipun honor yang diterima masih jauh dari kata layak, tetapi Sang Penguasa Semesta tidak membiarkan pak Pandu jatuh dalam ketidakberdayaan dan kemiskinan, karena tak lama setelah menikah dengan gadis pujaan hatinya dan dikaruniai putera pertama, Pak Pandu diberi kesempatan memberi pelajaran tambahan dengan leluasa oleh Kepala Sekolah Pak Soetopo HS, sehingga sambil menunggu SK pengangkatan ia masih mampu bertahan dan menyokong keluarganya.

Di penghujung 90an, istri pak Pandu akhirnya menerima SK pengangkatan sebagai pendidik di Kabupaten lain sehingga membuat Pak Pandu harus berakhir pekan di daerah lain pulang pergi, hal ini dilakoninya hingga pertengahan 2001 sampai Pak Pandu menempatkan diri sebagai guru di SMA sekarang ini.

Awal 2001 sebagai aparatur sipil, bapak guru menerima banyak pengalaman yang mengesankan juga mendebarkan dan memberi pengetahuan mendasar sebagai pengajar. Tidak dikarenakan arogan dan handal menguasai materi belajar tetapi yang terpenting adalah hati untuk mengajar dan membimbing para peserta didik hingga mereka berkembang menjadi putra putri bangsa yang mumpuni.

Tahun 2006-2007 adalah tahun yang tidak dapat dilupakan oleh Pak Pandu sebagai pengalaman yang paling berkesan dan mengubah cara pandangnya, bahwa sekolah pun jika dikendalikan secara politis menjadi sarang yang mengesampingkan tata krama pergaulan sesama guru dan sesama peserta didik, tahun-tahun yang sangat berat dan merevisi paradigma bahwa mengajar tidak hanya berkutat dengan bicara dan karsa, tetapi juga karya. Pencobaan demi pencobaan ditelannya seperti pil pahit yang hanya berasa dalam indra pengecap tetapi memberi kesehatan bagi tubuh, pil pahit itu menjadi kekuatan besar untuk menjadikan dirinya mengikuti kompetisi menulis blog edukasi personal dan mengharumkan nama Kota ini dalam hiasan website resmi pemerintah daerah. Tahun 2013, kembali akibat dari pil pahit tadi ia menerima penghargaan dari sebuah perusahaan teknologi informasi ternama di Indonesia dan menjadi cerita pembuka di situs sekolahnya.

Seusai menyandang titel magister pendidikan yang diselesaikan tahun 2012, ia kembali berkiprah pada bidang yang telah lama ditinggalkan semasa awal mengabdi sebagai pendidik di sekolah terkini. Beban berat menganga lebar yang dapat menjadi jurang pemisah atau disparitas partisipasi peserta didik menuju skala keberhasilan mutu sekolah maupun mutu layanan pendidikan.

Tugas berat menanti di masa-masa mendatang dan terus akan bertransformasi menjadi persoalan global yang menanti dan membentuk karakter guru bahkan karakter sekolah sebagai Unit Layanan Masyarakat di masa mendatang.

Selamat bertugas pak Pandu di masa baru dan harapan penuh dari para peserta didik yang memandang masa depan mereka semakin berarti tidak hanya dipundakmu semata, melainkan di bahu kalangan sesama guru lain yang engkau dampingi.