Andai Aku Dilan

“Jangan Rindu, Berat, Biar Aku Saja !”
“Aku ramal kamu, kita nanti akan ketemu di Kantin”

adalah dua potongan kalimat sederhana yang menggelitik, sentilan Pidi Baiq dalam novel fenomenal yang saya kenal dan pertama dengar tahun 2015 dari mulut Revantio, alumni Smada tahun 2015 saat itu saya sebagai wali kelasnya di XII IPA 5 dan sekarang Revantio yang berkacamata ini melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya, Malang pada program studi Teknik Informatika.

Revantio adalah pemuda yang rajin membaca, dibuktikan dengan kacamatanya yang tebal dan tidak pernah lepas dari wajahnya yang persegi. Dialah yang pertama kali menceritakan tentang Novel Dilan 1991 di depan kelas saat pelajaran literasi di jam terakhir fisika pada hari Selasa kala itu.
5Sos alias XII MIPA 5 tahun 2015

Itu dia yang berdiri paling kiri dengan tangan menunjuk dan berkacamata, dialah yang pertama mengenalkan saya pada cerita Dilan. Itu 3 tahun lalu dan mereka saat ini semua telah menjadi mahasiswa, kurun waktu singkat dan saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Dominasi perempuan dalam kelas ini, sementara populasi pria hanya 3 biji saja. Salah satu pria yang ada di belakang saya sana bernama Hafidz, dia memberikan warna tersendiri dalam diamnya selama bergabung di komunitas 5Sos ini.

Kembali pada Dilan, siapa dia ya? Konon dia adalah panglima tempur, dia adalah laki-laki pemberani, dia inovator dan motivator geng motor di kota sana, di masa 91 itu saya pun SMA, tetapi tidak mengalami sebagaimana yang dituliskan tentang Dilan yang sudah punya motor. Bisa berjalan-jalan bahkan membonceng Milea Adnan di tengah derasnya hujan (diabadikan sebagai salah satu scene movie tersebut)

http://fadilfadilan.blogspot.co.id/2016/10/ngobrolin-buku-dilan-milea.html

Keberadaan Dilan sungguh mempesona dan menjadi magnet bagi para kaum Hawa mulai dari usia belia hingga tidak lagi remaja, Dilan oh Dilan, pesona nostalgia zaman SMA yang telah 27 tahun lalu kami lalui dan sekarang berulang kembali. Dikemas dalam kegiatan arisan hingga reuni. Ya Reuni, sudah tepat kami berkumpul kembali tetapi dalam sosok-sosok yang berbeda, bukan lagi sebagai remaja tetapi sebagai bapak-bapak dan ibu-ibu yang menjelang tua.

Anak-anak kami pun sudah lewat SMA, tetapi sebagian besar masih menggeluti dunia sekolah di SMP hingga SMA, kami dulu bisa bertatap dengan syak wasangka dan prasangka akan ditampar atau ditempeleng jika menatap lama-lama “Liat Apa Kamu!” atau “Apa liat-liat!” … adalah kalimat intimidatif yang menciutkan nyali saat hanya jadi pelajar biasa yang limbung dan nirpengalaman.

Tetapi sekarang berbeda, aku bisa duduk bersama dan makan bersama dengan tenang secara egaliter dengan orang-orang yang dulunya “kurang bersahabat dan cenderung arogan bahkan intimidatif”, semua telah menempuh beragam profesi orang-orang ini telah berubah dari Dilan yang stereotipe remaja garang yang emosional dan bisa bernuansa romantis walau dipaksakan.

Dilan itu dulu, saat kamu masih SMA, saat kamu masih abu-abu
Tapi sekarang kamu sudah beruban, rambutmu tidak lagi memutih kecuali Kau pergi ke salon untuk minta disemir dan tentu saja ditambah sedikit massage atau refleksi selain biaya servis menghitamkan kembali mahkota kepalamu

Dilan itu dulu, saat kamu culun dan tidak berpengalaman
Dilan itu kamu dulunya, yang emosional, brangasan, sarkastik dan brutal
Nuansa ketika itu adalah pemberontakan dan masa muda yang hingar bingar berisik
baik dengan musik metal atau dengan derum motor berkenalpot geledek

Dilan itu nostalgia
Nostalgia yang memesona kelompok keturunan Hawa dan
menggelitik para turunan Adam
untuk menggeser performa dan penampilannya kembali ke masa lalu

Dilan adalah anomali

 

Iklan

#anomali, #dilan, #dilan-1991, #nostalgia, #nostalgia-sma, #reuni, #reuni-sma, #sma